Catatan A. Hidayat

Berpikir , berbagi pengetahuan dan wawasan

Arti Sebuah Nikmat

Image

Dalam perjalanan kembaliku, ditengah lautan yang luas. Ku hirup udara perjalanan ini dalam-dalam, gemuruh ombak yang mendebur-debur dan jejeran pulau yang kulewati, tak lepas kupandangi.

Kenikmatan menyendiri dalam banyaknya penumpang. Ku coba merenung, apakah kenikmatan yang telah kualami ini banyak orang yang telah merasakannya. Merasakan berada dalam lautan biru yang jernih, ikan-ikan yang mudah dijamah dan beraneka ragam, dan batu karangnya yang indah. Belum lagi disuguhkan oleh pemandangan yang elok dimata.

Ku coba bertanya dalam diri, apakah diri ini terlalu sombong sehingga rangkaian nikmat-nikmat itu tak kusyukuri.
Aku masih merasakan nikmat sehat, yang mungkin saat ini kawanku ada yang sakit
Aku masih merasakan nikmat penglihatan, yang mana sebagian kawanku penglihatannya tak berfungsi.
Aku masih merasakan nikmat usia, yang mana ada beberapa kawanku telah meninggal dunia.

Ahh Betapa aku masih beruntung dan seharusnya melipatkan rasa syukur itu. Aku harus kembali menegaskan rasa syukurku dengan makin meningkatkan kualitas diri, dan semakin bergerak dalam aksi-aksi kebaikan. Aku harus menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain.

Aku harus menjadi bagian rahmat bagi alam semesta ini.
Bila waktuku masih ada, terus tebar amal, hingga diakhir hidupku aku bisa membayar kenikmatan ini kepada Rabb Allah SWT dan aku menjadi bagian dari hamba-Nya yang bersyukur.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( Surat Ibrahim Ayat 7 )

Ujung Kulon, 5 Oktober 2013.

Kami Hanya Mau Surga

Apa yang membuat sebagian manusia berela rela untuk mau susah payah memikirkan orang lain. Terlebih bagi aktivis dakwah yang hari-harinya dipenuhi jadwal untuk mengisi pengajian-pengajian, kegiatan-kegiatan keislaman atau aksi-aksi sosial.

Point interest yg dilakukan sosok aktivis dakwah itu yakni bagaimana memberdayakan kesolehan pribadinya menjadi kesolehan berdaya guna.
Sebagai contoh sosok A, katakanlah dirinya diberi amanah sebagai seorang ketua dakwah di sebuah kampung. Pekerjaannya belumlah mapan, penghasilan istrinya pun tak terlalu besar. Kontras dengan pekerjaan sehari-harinya, pekerjaan “dakwah”nya jauh lebih besar. Hampir sebagian malam-malamnya dipenuhi agenda koordinasi kerja, belum lagi agenda tiap pekan untuk menggulirkan program-program sosial kemasyarakatan. Berpacu dengan waktu kepentingan dirinya dan keluarganya ia korbankan untuk kepentingan umat yang jauh lebih besar.

Hingga pada satu titik ketika kelelahan melanda, ia berpikir apa yang akan kudapatkan dari kerja-kerja dakwah ini ? Ia menengok kisah hidup teman-temannya yang tidak aktif dakwah, sudah mulai mapan dengan indikasi punya rumah dan mobil serta gaji yang besar. Ia berpikir apakah aku akan mundur kebelakang dan lebih baik menjadi “orang biasa saja ?”.

Lalu ada kisah sosok B, Aktivis dakwah di sebuah institusi sekolah. Sosok ini hampir tiap pekan merelakan waktunya untuk mendidik adik-adik kelasnya. Sudah belasan tahun sejak ia lulus dari sekolah tersebut ia kembali ke almamaternya berdakwah.

Ia sebenarnya tak sendiri pada awalnya, namun rekan-rekannya banyak yang tak bertahan untuk dakwah ditempat tersebut. Ada yang memang jenuh, malas dan hilang semangat dakwahnya serta ada juga yg memang karena domisilinya yang sudah berpindah dan tak memungkinkannya teta berdakwah ditempat tersebut.

Hingga Ia telah pada satu titik dalam kesendirian berdakwah. Adik-adik yang dibinanya yang diharapkan melanjutkan estafet dakwahnya tak juga kembali setelah lulus. Ia terdiam dan berpikir dalam kelelahannya. “Apakah aku tinggalkan lahan dakwah ini? “. ” Lalu bila aku tinggalkan bagaimana dengan adik-adik yang kubina ini ?” Siapa yang mengajarkan mereka mengaji, belajar keterampilan hidup dan nilai-nilai kehidupan ?”.
Ia menyentak batinnya, lalu dengan semua pengorbanan yang ku berikan, apakah yang akan ku dapatkan ? ” Apakah lebih baik aku menjadi “orang biasa saja ? ”

Sesungguhnya kisah-kisah patriot dakwah adalah senantiasa kisah yang bergulir dalam setiap jaman. Kisah-kisah yang menuntut kerelaan sang dai untuk mengorbankan segalanya untuk dakwah ini.

Tengok kisah Rasulullah SAW dengan sahabatnya. Muhammad bin Ka’ab al – Qurazhi dan lain-lainnya bercerita , ” Abdullah bin Rawahah ra berkata kepada Rasulullah saw, pada malam Bai’ah Aqabah (yang pada waktu itu tokoh-tokoh suku Aus dan Khazraj berjanji setia kepada beliau saw untuk berhijrah kepada mereka. ) Tentukan syarat untuk Tuhanmu dan untuk dirimu sesuai dengan yang engkau kehendaki . ” Beliau bersabda , ” Aku mensyaratkan buat Tuhanku, yaitu hendaklah kamu beribadah kepada-Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Aku mensyaratkan untuk diriku, yaitu lindungilah aku dari sesuatu yang kamu melindungi dirimu dan hartamu darinya.’ Abdullah bin Rawahah bertanya . ‘ Apakah yang akan kami peroleh jika kami lakukan hal itu ?” Beliau menjawab , ‘ Surga.’ Mereka berkata , ” Beruntunglah perniagaan itu, kami tidak akan membatalkannya dan tidak meminta dibatalkan.”

Inilah hakikat akidah islam. Yaitu memberi, memenuhi dan menunaikan saja, tanpa mengharapkan imbalan kekayaan duniawi, kemenangan dan kekuasaan. Kemudian menantikan segala sesuatu di akhirat sana.

Insya Allah tidak ada lagi kegalauan sosok A dan B serta sosok-sosok lain yang berjuang di jalan Allah, menebar kebaikan.
Surga telah menanti sahabat.

Jakarta, 28 September 2013.
Refleksi kegiatan Ragunan.

Jejak Ramadhan

Ramadhan boleh jadi memiliki kesan dan makna yang berbeda-beda bagi setiap orang. Berbeda terjadi karena bermacam-macam orang menyikapinya.

Ada sebagian orang yang totalitas mengisi Ramadhan tersebut dengan ibadah pribadi dan sosial. Ada sebagian yang bersikap biasa-biasa saja, walaupun ia tetap melaksakan ibadah puasa. Ada sebagian yang malah menjadi penantang, karena dengan seenaknya sendiri tdk berpuasa, seakan tak ada rasa salah.

Lantas siapakah pemenang Ramadhan. Pemenang diukur dari keseriusan dan puncak pengorbanan dari menjalani Ramadhan. Pemenang diukur dari seberapa maksimal kerja kerasnya selama di Ramadhan untuk mendekatkan diri dengan Rabb-Nya.

Apakah kita termasuk pemenang atau pecundang Ramadhan. Kita bisa dilihat dari 11 bulan ke depan. Apakah training Ramadhan membuahkan ketaqwaan ? . Wallahu Alam.

Hidayat 08.08.2013

Perjalanan ke Raja Ampat – Papua Barat

Alhamdulilah tahun lalu , saya berkesempatan untuk menjejakkan kaki di kepulauan Raja Ampat – Papua Barat. Perjalanan yang gratis dan bahkan dibayar , kebetulan ada pekerjaan liputan training PT.  Pertamina Sorong.  Mendengar Raja Ampat terbayang, Sebuah destinasi kepulauan yang sangat indah di Ujung negeri ini. Sebelumnya hanya melihat Raja Ampat melalui televisi. Melihat deretan-deretan pulau yang bergugus-gugus dan mendengar host yang begitu antusias menceritakan kepulauan tersebut.

Apa yang menarik dari Kepulauan Raja Ampat dan apa yang membedakannya dengan kepulauan-kepulauan lainnya semisal kepulauan seribu ( yah jauhlah untuk dibandingkan ) . Kepulauan Raja Ampat adalah syurga dari spesies biodata laut , di kepulauan tersebut lebih dari 3,000 biota laut ada disana. Menjadi daya tarik bagi pencinta diving (menyelam) , karena mereka akan melihat secara langsung keindahan ciptaan Allah langsung dari habitatnya yang tidak ditemukan di dalam lautan tempat lain.

Raja Ampat itu bukan hanya 1 pulau, tetapi merupakan kepulauan . Beberapa pulau tersebut ada yang milik swasta dan ada yang dikelola oleh pemerintah. Di sana ada pulau Waisai, pulau Waiwo, pulau Waigeo dan lain-lain.

Pulau yang menjadi destinasi saya yakni pulau Waiwo. Bersama Nadine Chandrawinata saya menikmati keindahan pulau tersebut ( hehehe kebutulan saja Nadine menginap dan menikmati wisata diving di tempat itu ). Disana saya mencoba untuk snorkeling , luar biasa di tepian darmaga saja bila kita menjetikkan jari-jari kita di air seakan ingin member imereka makan, ikan-ikan tersebut jumlahnya tak hanya puluhan namun ratusan menghampiri kita. Hewan-hewan laut yang sulit untuk ditemui ditepian pantai akan mudah kita temukan. Indah dan benar-benar indah, air lautnya jernih dan pemandangan alamnya yang masih “ perawan “ belum banyak dijamah manusia membuat kita terkagum –kagum.

Kesimpulan saya, Indonesia memang Indah, terutama Indonesia timur. Pantaslah kita bangga dan bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan tersebut.

Maknai Ulang Mars “ Aku Anak ROHIS “

ROHIS SMP 175MARS AKU ANAK ROHIS

Aku Anak ROHIS “
Selalu optimis
Punya ciri-ciri berwajah manis
Berjengkot tipis tidak berkumis
Walau berkantong tipis tetap aktivis

Sebuah memoar lagu lama yang kembali menyentak nurani , dan terasa maknanya untuk saat ini. Sebuah nasyid yang simpel, dan mudah untuk dinyanyikan, sebuah nasyid yang merupakan Mars bagi kami aktivis ROHIS . Sebuah syair kebanggaan dan menjadi sebuah penyemangat bagi kami dahulu.

Namun saat ini melepas pada pandangan sejak 14 tahun yang lalu tuk pertama kalinya mendengar nasyid ini , dan melirik lirik nasyid tersebut saat ini, ternyata lirik tersebut bukanlah sebuah syair yang biasa, namun didalamnya terdapat sebuah ciri dan komitmen anak ROHIS dalam dakwah.

Judul Nasyid tersebut “ AKU ANAK ROHIS “ , sebuah nasyid yang sangat khusus ditujukan untuk ROHIS ( Rohani Islam ) sebuah ekstrakurikuler keagamaan di sekolah, baik ditingkat SMP, SMU maupun kampus. Organisasi yang mengajarkan nilai-nilai Islam di dalamnya dan membentuk pribadi-pribadi muslim yang luar biasa. Dengan sebuah sentuhan Islam, seorang yang bukan siapa-siapa dahulunya, ketika bersentuhan dengan nilai-nilai Islam. Ia tumbuh menjadi sosok yang penuh motivasi dalam hidup , pembelajar keras dan tekun dan selalu berusaha menebarkan nilai-nilai kebaikan dalm lingkungan sekolahnya maupun rumahnya. Ia menjadi sosok-sosok yang berani mengambil kepemimpinan di kelas, OSIS, Ekstrakurikuler lain . Mungkin tak berlebihan dapat dikatakan bahwa seperti Bilal bin Rabbah yang awalnya seorang budak , seseorang yang tak pernah dipandang oleh makhluk dunia, namun setelah disentuh dengan Islam, dirinya tumbuh menjadi sosok yang disegani, dan dapat menjadi sosok seorang Gubernur disebuah negeri.

Mengapa karakter-karakter kebaikan, kepemimpinan , motivasi yang kuat hal tersebut bisa terjadi di ROHIS , karena dorongan bait kedua dari lirik nasyid tersebut yakni “ SELALU OPTIMIS “.Itulah keperibadian anak ROHIS, selalu memandang hidup dalam sudut pandang positif. Apapun kejadian hidup baik suka terlebih duka, akan disikapinya dengan OPTIMIS. Dalam kamus anak ROHIS “ Tak ada kata menyerah “ yang ada adalah berjuang dan terus berjuang. Keep Spirit

Hal menarik lagi ketika kita melihat isi dari bait ketiga yakni “ PUNYA CIRI-CIRI BERWAJAH MANIS “ itulah ciri-ciri anak ROHIS , wajah manis menandakan senyuman terindah, wajah manis menandakan kebahagian, wajah manis menandakan sebuah sikap yang memberikan kedamaian kepada siapa saja. Wajah manis adalah wajah kebaikan, ciri yang sangat luar biasa dari anak ROHIS, setelah memiliki kepribadian selalu optimis, ditambah dengan ciri berwajah manis, maka sosok anak ROHIS akan menjadi sosok yang rindukan dalam pergaulan, disenangi oleh orang-orang baik kawan, guru, orang tua, saudara dan sebagainya. Maka bila dapat ditafisrkan sosok anak ROHIS adaah sosok yang tak hanya manis wajahnya, namun manis pula dalam tutur kata baik SECARA LISAN MAUPUN TULISAN , dan juga sikap .

Bait ke empat “ BERJENGGOT TIPIS TIDAK BERKUMIS “ , ini adalah sebuah ciri yag dapat menggambarkan komitmen dari menjalankan ajaran-ajaran Islam. Memelihara jenggot adalah sebuah sunah Rasulullah SAW. Bila anak ROHIS sudah senantiasa berkomitmen dengan sunah Rasulnya, Insya Allah hal-hal yang merupakan ibadah wajib sudah senantiasa dilaksanakannya. Berjenggot tipis juga ciri anak ROHIS . Ia bagaikan tanda pengenal yang sederhana sebelum orang menilai anak ROHIS dari akhlaknya. Ahh sebuah tanda pengenal yang sangat sederhana, dan mungkin saat ini tanda tersebut sudah mulai hilang dari diri kami.

Hal terakhir dari bait Mars Anak ROHIS yaitu “ WALAU BERKANTONG TIPIS TETAP AKTIVIS “. Ini bait komitmen , janji yang harus tetap ditepati. Bahwa berkantong tipis menggambarkan kesulitan hidup , boleh dikatakan kesulitan ekonomi. Masing-masing orang memiliki problem masing-masing . Ada yang diberikan ujian kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, membayar biaya sekolah atau kuliah, ongkos menuntut ilmu , bahkan ongkos untut berdakwah. Namun Anak ROHIS tetaplah anak ROHIS yang sampai kapanpun terhadap kesulitan tersebut tetap menjadi AKTIVIS. Ya Aktivis adalah pekerjaan dan hakikat amal yang penuh kemulian. Memaknai aktivis sebagai sosok-sosok yang menebarkan nilai-nilai kebaikan dimana saja dan kapan saja , agen perubahan bangsa dengan perbaikan dalam moralitas, pemikiran, dan aksi-aksi nyata . Karena itu pekerjan kantor, kesibukan mengurus diri, istri, anak dan keluarga, business, belajar disekolah, studi dikampus ataupun pekerjan –pekerjaan didunia lainnya, tak pernah seharusnya menjauhkan diri dari komitmen untuk tetap MENJADI AKTIVIS. Sebuah ungkapan yang indah “ Nahnu Duat Qabla Sa’I “ ( Kita adalah Dai sebelum menjadi segalanya ) .

Subhanallah sebuah syair penyemangat tersebut mudah-mudahan kembali mengaskan pada diri “ AKU ADALAH ANAK ROHIS yang memiliki keoptimisan, berwajah manis, jenggot yang tipis dan walau berkantomg tipis , AKU AKAN TETAP AKTIVIS.

Ya Rabb , Mari kita berdoa untuk diri dan rekan-rekan kita sesama aktivis dakwah dahulu, adik-adik kita yang masih di ROHIS dan seluruh anak ROHIS di muka bumi , Ya Rabb Jadikanlah kami tetap “ ANAK ROHIS “ yang akan selalu menjadi “ AKTIVIS “ hingga akhir hayat.

*. Memori Rujak Party, ROHIS SMP 175, tahun 1996, Jazakallah untuk abang-abang Ulul Azmi dan mba-mbaku yang telah memperkenalkan ROHIS kepada saya.

Acep Hidayat

19 Desember 2010

Pelajaran terakhir dari sang mujahid

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah Bapak Sugi, pagi ini pukul 8.20. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. “

Itulah bunyi sms yang pagi ini masuk ke inbox HP saya. Dikirimkan oleh seorang kawan. Saya tatap sunggguh-sungguh layar HP tersebut, seakan tak percaya dengan sms yang hadir tersebut. Saya menelpon kawan tersebut untuk benar-benar memastikan apakah berita tersebut benar. Dalam pembicaraan tersebut sang kawan meyakinkan bahwa berita itu benar. Saya terdiam, dan tanpa terasa air matapun meleleh, dan menangis . Menangis karena kenangan yang terdalam terhadap sang almarhum. Menangis karena ujian yang menyebabkan beliau meninggal begitu panjang. Menangis karena ketabahannya menahan ujian sehingga yang ada dalam diriya adalah sebuah kepasrahan kepada kehendak Allah SWT. Menangis dan terus menangis diri saya.

2 pekan yang lalu saya mengunjungi beliau bersama ketua Dakwah Kelurahan untuk ketiga kalinya kami bersilahturahim sekaligus menyerahkan dana pengobatan yang diberikan kawan-kawan da’wah kepada keluarga beliau. Sosok yang kini telah meninggal tersebut bernama Bapak Sugiyanto, mantan ketua Dakwah Kebagusan tahun 1999-2000. Beliau adalah salah satu penggiat dakwah di kampung kami, beliau adalah sosok pengerak remaja-remaja di lingkungan kami untuk mendalami agama Islam dan sekaligus menjadi motor perubahan. Beliau adalah ustad bagi kami yang mengajarkan bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat dan hidup bersama masyarakat.

Beliau mengalami sakit penyumbatan empedu dan hepatitis C kronis. Beliau mengalami sakit tersebut kurang lebih selama 1 tahun hingga ajal menjemputnya. Diagnosis dokter mengatakan tak dapat disembuhkan. Melihat beliau terbaring tak berdaya selalu membuat mata saya sembab, bukan karena cengeng , tetapi melihat kondisi tubuh beliau yang makin kurus hanya tinggal dibalut tulang, perut yang membesar karena pencernaannya tak berfungsi lagi, raut wajah yang jauh melampui usia dirinya bagai seorang kakek. Ahh dalam sakitnya beliau tetap tersenyum. Malam itu kami bicara banyak tentang dakwah , kami mengulas pengalaman-pengalaman beliau dalam dakwah. Beliau bicara tentang bagaimana awal-awal dahulu membawa dakwah di lingkungan kami , bagaimana masyarakat mencurigai sebagai aliran sesat. Menyikapi hal tersebut sangat sederhana yang beliau ajarkan yakni ketika ada pengajian kelompok beliau ajak orang tua mereka , beliau ajak untuk mendengarkan materi-materi yang beliau sampaikan. Hasilnya adalah ketika ada sebagian masayarakat menyatakannya sebagi ahli sesat, orang tua remaja-remaja tersebut membelanya, membelanya karena tak ada yang salah dengan apa yang beliau ajarkan.

Beliau mengajarkan saya untuk dekat dengan masyarakat. Beliau mencotohkan bagaimana menjalin kedekatan dengan Bapak Lurah, RW maupun RT dan tokoh-tokoh masyarakat lain. Beliau mengajarkan bagaimana agar selalu terlibat dalam kegiatan di masyakat apa saja misal kerja bakti, arisan RT, acara 17 an dan sebagainya. Kedekatan kepada masyarakat menandakan bahwa dakwah ini membumi.

Beliau menyampaikan pula bagaimana mengubah materi yang disampaikan tidak menjadi materi langitan. Menjadi materi yang tidak hanya ada pada tataran idealisme, materi –materi yang tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kepada murid-murid pengajiannya sederhana yang beliau ajarkan sebelum masuk pada materi-materi yang berlibet. Beliau meminta murid-muridnya untuk belajar mengepel, belajar mencuci pakaian, belajar memasak dan materi-materi itu sangatlah sederhana , ternyata materi-materi itulah yang disukai oleh ayah dan ibu mereka dirumah, sehingga sang murid terasa kemanfaatannya di keluarga. Belau mengajarkan tentang ukhuwah sederhana pula, bagaimana murid-muridnya ketika mengaji diminta membawa makanan dari rumahnya masing-masing dan disana dimakan bersama. Ketika di angkot dan dimanapun untuk saling bertegur sapa, menebarkan salam dan selalu berempati kepada kawan yang kesusahan. Beliau pun tidak pernah memilah-memilah objek dakwah, banyak murid-murid dakwahnya dahulu di bina ketika SD, SMP, maupun SMU. Dan kini beliau telah melihat hasilnya, murid-muridnya telah menjadi sosok-sosok yang dapat dibanggakan di kampus maupun di lingkungan kerja.

Ahh luar biasa ya pak, pelajaran sangat dalam buat diri saya. Malam itupun saya mengangguk salut kepada istri beliau. Kuat untuk mendampingi beliau dalam sakitnya. Bahkan masih bisa bercanda “ Abi klo ga sakit kaya gini mana bisa dirumah terus, dan bertemu kami. Kalo dulu abinya sulit diam, entah kegiatan dakwah disinilah, disanalah atau bermain futsal, abi ga pernah bisa diam selalu untuk masyarakat. “ Tak ada rasa sedih terungkap dalam wajah istri beliau yang ada adalah ketegaran bawa inilah takdir hidup mereka, dan mereka harus tetap berhusnudzon kepada Allah SWT. Mereka tetap berikhtiar dengan segala obat untuk kesembuhan penyakit tersebut.

Buah amal tersebut memang nyata, hampir tiap hari ada saja murid, sahabat atau kawan yang hadir kerumah beliau. Sampai-sampai masyarakat menyangka belau adalah salah satu pejabat. Istrinya hanya tersenyum bila tetangganya berkata tersebut.

Pagi itu saya bertaziyah kerumahnya. Melihat beliau sedang dimandikan. Saya menyampaikan salam dari kawan-kawan kepada istrinya.

Pak ini insya Allah yang terbaik untuk antum, Allah sangat menyayangi antum sehingga ujian ini sangat berat namun bapak insya Allah dapat memikulnya, insya Allah ketika antum sakit pak , Allah mengangkat dosa-dosa antum. Salut untuk antum pak, saya tak yakin bila ujian itu ditimpakan kepada saya akan dapat memikulnya. Saya berjanji dalam diri untuk terus dalam dakwah , dan melanjutkan perjuangan antum dilingkungan dimana saya berada. Saya takkan memandang apakah yang saya bina adalah anak-anak SD, anak SMP ataupun SMA, karena mereka kelak adalah kader-kader dakwah, sebagaimana dahulu ketika saya SMP sempat merasakan dakwah antum berikan “

Selamat jalan pak.. semoga kita kelak bertemu dalam Syurga- Nya. Amien

8 Desember 2010

Acep Hidayat

Bisnis dalam persahabatan

Dalam mendirikan usaha bisa dilakukan secara perorangan maupun bekerjasama dengan orang lain (berpartner). Ini adalah pilihan , karena diantara keduanya masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan. Usaha sendiri , memberikan kelebihan antara lain keleluasan mengatur jalannya perusahan sendiri sesuai dengan pikiran sendiri tanpa intervensi orang lain, keuntungan yang didapatkan akan jauh lebih besar, dalam melakukan keputusan tidak memerlukan pertimbangan orang lain yang kadang membuat lamban dalam mengambil keputusan tersebut dan masih banyak kelebihan lain yang dapat dijabarkan. Sedangkan kekurangan dari usaha sendiri adalah segi permodalan maupun kemampuan benar-benar mengandalkan diri sendiri untuk mencarinya, motivasi yang kadang naik turun sehingga ketika motivasi drop tidak ada yang menggantikan, tidak memiliki partner untuk share pemikiran untuk kemajuan bisnis tersebut dan lain-lain.

Bagaimana melihat itu semua, sebenarnya itu kembali kepada kita. Bila kita memang merasa nyaman dengan usaha sendiri maka ambilah pilihan itu. Namun bila memang kita membutuhkan partner maka PeDe lah mengambil langkah itu. Dalam tulisan ini saya ingin sedikit membahas bisnis yang didirikan secara berkelompok minimal dua orang. Bisnis yang didirikan dua orang atau lebih memiliki seni tersendiri untuk mengelolanya. Banyak usaha yang didirikan bersama jatuh hanya dalam hitungan 1 atau 2 tahun, bila telah lewat 1 atau 2 tahun diuji kembali apakah kuat dalam kurun waktu 5 tahun, begitu seterusnya batu ujian akan selalu menghadang usaha bersama akankan terus BERTAHAN ATAU BUBAR.

Bagaimana mengawali bisnis yang dilakukan secara bersama , bagaimana mencari partner bisnis yang tepat, bagaimana menjalani bisnis yang dilakukan secara bersama, bahkan bagaimana cara MEMBUBARKAN USAHA YANG BAIK , menjadi hal-hal yang tertarik menjadi bahan pikiran saya, menggelayut apakah benar bisnis secara bersama ini sebuah pilihan yang tepat . Saya teringat pengalaman bisnis yang dilakukan sejak SMA , kurang lebih 11 tahun yang lalu. Sejak SMA saya mencoba untuk berbisnis sendiri antara lain majalah remaja, minyak wangi, sandal, stiker-stiker , kaos dan sebagainya. Semua itu saya lakukan sendiri , dengan manajemen sendiri dan hasilnya pun untuk sendiri. Bisnis yang masih skala sangat kecil karena target marketnya hanyalah teman-teman yang ada di sekolah . Selepas SMA saya mencoba bekerjasama mendirikan usaha . Usaha pertama dengan berbisnis pakaian, menjual produk-produk dari Bandung , usaha ini gagal dan meninggalkan hutang. Usaha ini haya bertahan kurang dari 1 tahun. Saya merasa tak tepat memilih partner.
Tak lama dari gagalnya bisnis pakaian, saya mencoba membangun kembali mimpi bisnis dengan menggandeng rekan lain untuk mendirikan usaha bimbingan belajar dan rental. Bisnis ini jauh lebih baik karena saya dan rekan telah memiliki tempat dipinggir jalan, memiliki karyawan. Seperti yang sudah –sudah bisnis ini pun jatuh hanya bertahan kurang dari 3 tahun. Subhannallah, dari kegagalan-kegagalan bisnis dua diatas adalah hutang yang harus saya selesaikan sendiri. Apakah saya kapok , tidak juga , sempat beristirahat bisnis 1 tahun , kembali saya menggampai mimpi bisnis dengan menggapai rekan lain untu mendirikan usaha audio visual. Alhamdulillah sekarang hingga usia yang ke 5 tahun MASIH BERTAHAN dan masih menguatkan tekad untuk TERUS BERTAHAN .
Hal yang menjadi menarik dalam pengalaman saya tersebut adalah bagaimana sebenarnya untuk mengawali bisnis itu. Mencari partner berbisnis harus diawali oleh :
A. KESAMAAN VISI
Apakah visi yang menjadi tujuan bersama . Apakah sekedar untuk mencari uang atau lebih karena memiliki tujuan mulia lain yakni ingin memberdayakan potensi diri dan berbagi kepada orang lain dengan membuka peluang rejeki. Bila tujuannya hanya sekedar uang , maka bila ada partner yang berperan sebagai investor, bila usaha tak kunjung membuahkan hasil ia akan meihat apa yang ia dapatkan, modal sudah besar dikeluarkannya. Bisa-bisa ketika kita menjalankan usaha, ia menarik modalnya maka matilah usaha tersebut . Visi ini boleh dikatakan mimpi besar bersama yang ingin diwujudkan. Untuk membahas visi ini, hendaknya sebelum menjalin bisnis, adakan diskusi –diskusi dengan diri partner kita, apakah motivasi uatama berbisnis, apa yang ia harapkan dari bisnis tersebut kedepannya, bagaimana bila terjadi permasalah-permasalahan kedepannya, apakah solusi yang ia tawarkan.
Diskusi-diskusi ini akan memberikan gambaran apakah ia cocok untuk menjadi rekan bisnis kita. Ingatlah bahwa bisnis bukan sekedar cerita indah akan mendapatkan keuntungan-keuntungan sekian, pasti bisnisnya akan besar , pasti bisa membuat kaya. Langkah awal kesamaan visi akan menentukan jalannya usaha tersebut untuk tahun-tahun kedepan.

B. PEMBAGIAN PERAN YANG JELAS
Mencari partner bisnis tentunya kita lakukan karena ingin menutupi kekurangan yang dimiliki dalam aspek kemampuan ataupun permodalan. Bila kita lemah di manajerial, kita mencari partner yang memiliki kemampuan majerial, bila kita kuat di ide usaha , kita membutuhkan partner yang bisa memodali ide bisnis tersebut . Jelasnya pasti ada peran berbeda antara kita dengan rekan bisnis kita. Detilkan peran tersebut meliputi hak dan kewajibannya. Buat secara tertulis sehingga menajdi acuan bersama. Pembagian peran yang jelas ini akan memastikan bahwa dalam berbisnis bersama semua pihak yang ada didalamnya benar-benar bekerja.

C. RASA PERCAYA
Kepercayaan adalah modal yang paling utama untuk mengawali bisnis secara bersama. Kepercayaan ini tak hanya sekedar kepercayaan terhadap uang, meliputi juga kepercayaan dalam bekerja, kepercayaan untuk sekuat tenaga menyesaikan masalah, kepercayaan untuk sama-sama menghargai peran masing-masing. Rasa percaya kepada partner bisnis yang terus tersemai , akan membuat usaha bertahan jauh lebih lama. Kepercayaan bagi orang terlibat dalam bisnis itu akan memberikan kenyamanan, tidak ada rasa salah satu di tipu, salah satu telah bekerja lebih.
Bagaimana melihat indikator bahwa partner bisnis dapat dipercaya. Mudah saja , lihat kesehariannya apakah ia menjadi orang yang dapat dipercaya di keluarganya, di lingkungannya, diantara temannya. Tanya orang-orang yang bersinggungan dengan calon partner bisnis kita , apakah ada hal-hal yang pernah tidak ditunaikan janjinya, bgaimanakah ia dalam bekerja , penuh antusiaskah atau malasan-malasan. Tegasnya bila ia memang orang baik maka sebagai langkah awal orang ini dapat dipercaya.

D. TUANGKAN DALAM BENTUK HITAM PUTIH
Maksud dari pernyataan ini, hendaknya bila telah disepakati bisnis dilakukan bersama. Catat pendirian usaha tersebut dalam bentuk tertulis. Hal yang dicatat antara lain hak dan kewajiban, modal yang telah disetorkan, pembagian keuntungan, tata cara penyelesaian masalah. Lampirkan dalam bentuk tertulis disertai materai agar kuat bila terjadi gugatan-gugatan. Mengapa ini harus kita lakukan, bukankah sudah dilandasi oleh kepercayaan. Memang betul kepercayaan adalah hal utama, namun dengan menuangkan perjanjan dalam kertas, kita tidak memberikan ruang bila terjadi permasalahan akan tidak saling tanggung jawab. Dalam perjanjian-perjanjian yang ditulis hanya untuk akan memastikan secara hukum bahwa hak dan kewajiban tidak akan dicederai, pembagian keuntungan tidak ada yang tidak dibagi, bila gagal bisnis kita tahu bagamana penyelesaiannya. Sekali lagi ini untuk memberikan kenyamanan, kepastian hukum, dan langkah usaha kedepannya.

Itulah sebagian langkah-langkah untuk mencari partner bisnis yang insya Allah tepat. Awal yang baik insya Allah akan menentukan proses usaha berikutnya. Semoga saran-saran ini bermanfaat untuk kita semua.
Tulisan berikutnya akan dilanjutkan dengan bahasan bagaimana MENGELOLA BISNIS SECARA BERSAMA DAN BAGAIMANA MEMBUBARKAN USAHA YANG BAIK PULA…
Bersambung …

Perencanaan ROHIS (Rohani Islam )

Perencanaan secara sederhana dapat diartikan pengaturan. Melakukan sesuatu secara tepat. Mengapa perencanaan sangat penting dalam mengelola ROHIS. Karena dengan melakukan perencanan maka peluang keberhasilan dakwah akan semakin besar. Setiap pekerjaan yang tidak dilandasi perencanaan, pasti akan terbengkalai sebelum sampai kepada tujuannya.

Dengan perencanaan , kita bisa menempatkan berbagai fasilitas pada posisi yang tepat, mengenal karakter lingkungan kerja, kebutuhan dana dan SDM , maupun jaringan yang harus dimiliki . Dengan perencanan ini kita bisa mencapai tujuan, memperhitungkan berbagai akibat, mengkaji sarana-sarana untuk membebaskan diri dari berbagai kendala dan menanggulanginya.

Rasululloh telah menjadikan perencanaan ini sebagai hal terpenting. Beliau menetapkan langkah-langkah dan fase-fase yan menjadi tulang punggung keberhasilan gerakan dakwah pertama dibawah kepeimpinan Nabi SAW beserta para sahabat yang mulia. Melakukan sebuah perencanaan memang bukanlah sesuatu yang sederhana, butuh waktu dan pemikiran ekstra. Namun akan menjadi sebuah hal yang sederhana bila ada keinginan untuk merealisasikannnya.

ROHIS saat ini harus memetakan medan dakwahnya kembali, membangun kekuatan SDM, Fasilitas dan finansialnya, Sistem kerja yang rapi, dan keluasan jaringan baik terhadap alumni maupun pihak -pihak lain yang dapat mendukung kerja dakwah. Periode ROHIS tahun 90 an pasti akan berbeda dengan periode ROHIS tahun 2000 an bila dilihat karakter objek dakwahnya, perkembangan teknologi, dan perkembangan pergaulan sosial . Sehingga perencanaan adalah sesuatu yang dinamis . Selalu berkembang atau boleh dikatakan harus selalu update dengan perjalanan zaman. Apa saja yang akan kita buat perencanaan di ROHIS ? Saya melihatnya ada beberapa hal . Yakni sebagai berikut :  

1. PERENCANAAN VISI
Visi adalah awal untuk bagaimana ROHIS melangkah . Visi yang jelas bagaikan kompas yang akan menentukan arah gerak dakwah berikutnya. Pengalaman kurang lebih 10 tahun berkecimpung di dakwah sekolah , saya melihatnya ada tiga aspek yang akan menjadi Visi ROHIS , dan bila ini tercapai dapat dijadikan indikator keberhasila dakwah ROHIS. Visi ROHIS yakni menjadi organisasi yang melahirkan pelajar muslim yang sholeh, cerdas dan terampil.

Sholeh :
dapat dimaknai meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Pelajar yang sholeh adalah pelajar yang dekat dengan Allah SWT. Pelajar yang sholeh pribadi-pribadi yang taat beribadah, berakhlak baik kepada orang tua, guru, teman dan lingkungannya. Pelajar sholeh menjadi pelajar yang mampu menyebarkan nilai -nilai kebaikan kepada siapa saja.
Cerdas :
Makna cerdas ini adalah para pelajar menjadi sosok-sosok dengan kompetensi terbaik dalam bidang akademik. Pelajar -pelajar yang mampu berprestasi menjadi 10 besar dikelasnya. Pelajar -pelajar dengan nilai kelulusan terbaik dan berhasil masuk ke jenjang sekolah berikutnya yang terbaik pula. Pelajar cerdas ini berhasil secara akademik karena kerja keras, kejujuran dan kekuatan doa kepada Allah SWT.
Terampil :
Skill atau keterampilan adalah bekal-bekal yang dapat menunjang keberhasilan seorang pelajar. Keterampilan ini berguna pula untuk menyiapkan bekal bagi pelajar bersaing kelak di masa depan. Sebagai sebuah rangsangan bagi mereka dengan memiliki skill tersebut mereka telah memegang salah satu kunci keberhasilan dalam hidup. Keterampilan yang dimiliki dapat menjadi kebanggaan bagi orang tua, guru, sahabat dan orang lain disekitar. Bentuk – bentuk keterampilan banyak macamnya misal , keterampilan bahasa Arab & Inggris, keterampilan fotografi, keterampilan nasyid, keterampilan teater, keterampilan marawis, keterampilan kerajinan tangan dan masih banyak yang yang lainnya.

2. PERENCANAAN SDM ( SUMBER DAYA MANUSIA )
SDM adalah salah satu hal utama yang akan menentukan terealisasinya visi yang telah dijabarkan diatas. Dalam hal ini bisa di sebutkan SDM yang dimaksud disini adalah kader-kader dakwah yang terjun untuk membina para pelajar yang ada di sekolah menjadi tempat dakwahnya. Kader dakwah yang terjun harus mempunyai sifat-sifat kepribadian yang kuat dan berpengaruh berkat ketulusan dan keikhlasan yang dimilikinya. Kader-kader dakwah seperti inilah yang insya Allah siap memikul beban dakwah yang sangat berat. Selain itu juga mereka harus memiliki wawasan luas dan pengetahuan yang mendalam sehingga memungkinkan mereka menjelaskan berbagai permasalahan pelik, memecahkan berbagai problem sulit , mengetahui hal-hal yang sedang terjadi di dunia ini seperti dunia pelajar, akademik, dan sebagainya.

Disamping itu juga kader-kader dakwah harus menghiasi diri dengan akhlak yang utama dan komitmen terhadap adab-adab Islam ketika berinteraksi dalam hubungan sosial. Bagaimana mewujudkan sosok-sosok kader-kader dakwah seperti diatas, organisasi dakwah sekolah harus menetapkan sistem pelatihan terhadap kader-kader dakwah tersebut dan penanaman makna-makna ini didalam jiwa mereka. Sistem pelatihan ini mencakup dua aspek penting :

Pertama
, Pemantapan pemahaman yang benar terhadap Islam yang komprehensif. Metodenya bisa didapat dengan menyerukan para kader tersebut membaca buuku-buku dan menyeleksi yang patut dibaca, mengadakan perlombaan dan uji wawasan agar kader dakwah terbiasa untuk menyimpulkan apa yang telah dibacanya dan meningkatkan naluri kelimuannya serta mengkaji semua yang dibacanya, sehingga tidak menerima begitu saja apa yang dibacanya, kecuali setelah mengkaji dan mengevaluasinya

Kedua
: penerapan lapangan dari apa yang dikaji dan dipahami , sehingga seorang kader dakwah menjadi teladan bagi orang lain. Begitu pula, dengan akhlak dan perilaku baik, dakwahnya akan memberikan pengaruh yang besar . Sehingga ketika orang –orang melihatnya , mereka seakan melihat Islam yang berjalan dan melihat dakwah kepada kebaikan secara gamblang. Kader dakwah dengan karakteristik diatas insya Allah adalah hal utama yang akan membawa keberhasilan dakwah.

Saya memiliki pengalaman sedikit dahulu ketika pertengahan tahun 90 an hingga awal 2000, di ROHIS SMP kami hanya ada kurang lebih 3-5 orang yang mengurusi SMP tersebut. Walau belum memiliki karakter sepenuhnya seperti yang diidealkan diatas. Namun melintasi semangat menyebarkan Islam membuat hal-hal yang dirasa berat terasa mudah dijalankan. Kami merasakan dakwah periode yang sulit saat SMP dahulu. Bagaimana ketika ROHIS ingin mengadakan putar film, kami harus meminjam TV salah seorang teman, bernegosiasi dengan ayah dan ibu teman tersebut agar mengizinkan TVnya kami pinjam, rumah sang temen jaraknya kurang lebih 1 kilometer, karena tak ada motor kami harus menggotongnya.

Untuk kegiatan tak hanya TV yang kami pinjam, kadang kami meminjam pula peralatan makan seperti piring , sendok dan peralatan dapur, meminjam tape . Sebagian besar peralatan kami pinjam . istilahnya apa yang ada dirumah ada ya kami bawa untuk kegiatan ROHIS tersebut, dan yang pastinya kami tak pernah malu untuk namanya meminjam. Dalam melaksanakan kegiatan pasti kami membuat proposal. Untuk membuat proposal tersebut karena anak-anak ROHIS tidak memiliki komputer kami pergi ke tempat rental . Subhanallah jarak rumah kami ketempat rental kurang lebih 10 Kilometer, kami tempuh dengan menggunakan sepeda. Keringat bercucuran, dan pastinya cape, sesampainya disana ternyata tempat rental tersebut tutup. Baliklah kami kerumah dengan tangan hampa. Kami sedih , ternyata tidak ! itu membuat kami bermimpi untuk memiliki kendaraan bermotor, sederhana ya agar kami bisa melesat kemana saja demi dakwah SMP kami.

Peristiwa lain yang bila kami mengenangnya membuat terharu. Ketika ingin mengadakan acara Pesantren Kilat kami saling berlomba untuk mencari dana, ini dikompetisikan antara ikhwan dan akhwat. Subhanallah tanpa malu mendapat tugas ini kami bersemangat. Kami mengedarkan proposal dana ketetangga –tetangga kami. Masuk dari satu rumah kerumah lain, satu tempat usaha ketempat usaha lain. Kami harus berani berkomunikasi, merayu mereka untuk menyumbangkan dananya.

Cerita lain ada diantara abang kami, ketika itu harus mengajar ROHIS, rumahnya di Cawang, SMP kami di Jagakarsa. Dengan bermodal uang 100 rupiah ia tetap jalan ke SMP kami. Uangnya hanya cukup untuk naik bus sampai ke tempat kami. Untuk makan dan pulang ia menumpang menginap dirumah temannya terlebih dahulu. Hal lain pula yang membuat kami terharu adalah begitu gigihnya kakak alumni kami untuk mengadakan kegiatan Tafakur Alam di Puncak pada tahun 1997, bila waktu, pikiran dan tenaga , uang adalah hal yang biasa di korbankan , ada dari salah satu mba kami kami menyebutnya untuk kakak alumni yang akhwat beliau jatuh sakit pada saat kegiatan tersebut saking kelelahannya, kemudian setalah kegiatan tersebut beliau meninggal dunia. Semoga Allah memberinya pahala sebagai syahidah.

Pengalaman-pengalaman saat SMP itu memuat semangat- semangat berusaha diantara kesulitan-kesulitan ini menempa jiwa-jiwa kami untuk mencintai dakwah, memancangkan tekad- tekad kami agar menjadi orang sukses dunia dan akhirat agar bisa menyumbang yang terbaik bagi dakwah. Tegasnya, dengan SDM yang berkualitas insya Allah akan mampu melawan segala keterbatasan fasilitas, dana, jaringan, dan tenaga .

3. PERENCANAAN PROGRAM
Setelah sebelumnya kita telah ungkapkan visi begitu penting dalam perencanaan ROHIS. Maka untuk menjalankan visi tersebut kita memerlukan program-program kegiatan. Program yang dibuat dengan penuh perencanaan menandakan keseriusan kader-kader dakwah sekolah untuk mengelola institusi dakwahnya. Bagaimana membuat sebuah program yang baik, program yang baik hendaknya disusun dengan memperhatikan :

A. VISI YANG TELAH DIBUAT
Kita telah menetapkan visi yang akan dicapai yakni menjadi organisasi yang melahirkan pelajar muslim yang sholeh, cerdas dan terampil. Maka program yang dibuat diturunkan berdasarkan visi tersebut. Hal ini penting karena sebagai acuan, pedoman dan kekuatan konsistensi dari keberlanjutan program tersebut. Kader-kader dakwah sekolah akan melihat tujuan dakwah mereka secara jelas, aral yang menghadang, kabut dakwah tak menjadi halangan baginya karena mereka dapat melihat secara jelas tujuan perjalanan dakwah mereka. Penjabaran program nya dari setiap point visi tersebut yakni antara lain :

Kesholehan :
Program Baca tulis Al Quran .
Program kewajiban sholat berjamaah Zuhur di sekolah.
Program sholat dhuha di sekolah.
Program MABIT ( Malam Bina Iman dan Takwa ) setiap bulannya.
Kajian siraj nabawiyah ( sejarah hidup Rasulullah SAW ).
Kajian akhlak Kajian fiqih
Dan program lain yang terkait dengan peningkatan iman dan taqwa. Untuk media pembelajarannya beragam bisa dengan ceramah, diskusi , pembentukan kelompok , putar film, games dan sebagainya.

Akademik :
Pembentukan klub-klub belajar ( berisi kurang lebih 5 – 6 orang ). – Program bimbingan belajar ( diperuntukan terutama untuk kelas 3 ) – Program kakak “ Belajar “ ( kakak-kakak kelasnya memiliki 1 adik kelas yang bertanggung jawab terhadap setiap permasalahan belajar. Misal memberikan buku-buku kepada adik kelasnya, konsultasi belajar dsbnya. – Program ujian Try out menjelang kenaikan kelas dan ujian akhir sekolah. – Program penganugerahan Award bagi pelajar-pelajar berprestasi. – Dan masih banyak program –program lain yang dapat dirancang untuk mencapai kompentisi anggota ROHIS dalam bidang akademik.

Keterampilan
Pembentukan klub seni Nasyid, Teater.
Workshop Fotografi
Kursus-kursus singkat bahasa Inggris dan Arab
Pameran kerajinan tangan.
Bazaar sekolah
Pelatihan internet
Dan masih banyak program keterampilan yang dibuat untuk memperkaya keterampilan yang dimiliki anggota ROHIS.

B. KOMPETENSI YANG INGIN DIDAPATKAN BAGI SETIAP ANGGOTA ROHIS BERDASARKAN JENJANG KELASNYA.

Disekolah pastinya ada yang menduduki kelas 1, kelas 2, kelas 3. Hal yang pastinya bahwa kemampuan –kemampuan mereka harus dibedakan. Kemampuan yang ingin diberikan sejak kelas 1 hingga jenjang berikutnya harus selalu meningkat. Perjenjangan dan perbedaan kompetensi yang diberikan akan memberikan kejelasan program akan ke arah mana, selain itu bagi anggota ROHIS mereka akan melihat program yang diberikan sangatlah dinamis, makin menggairahkan dan selalu berbeda ketika mereka masuk ke jenjang kelas diatasnya.
Misalnya dalam HAL KESHOLEHAN untuk kelas 1 SMP kompentisi yang diberikan mereka bisa membaca Alqur’an dengan baik. Maka yang mereka pelajari adalah tajwid. Ketika mereka naik ke kelas 2 diberikan kompetensi memahami tafsir-tafsir surat-surat pendek dalam Juz 30. Saat mereka naik ke kelas 3, mereka mendapatkan materi bagaimana menghapal Al Quran surat-surat pendek juz 30 dan sekaligus penugasan untuk menghapal Juz 30 tersebut. Hasil akhir dari kelulusan anggota ROHIS tersebut mereka sudah dapat membaca Alquran dengan baik, mereka memahami intisari pengajaran yag terdapat dalam surat-surat Juz 30 dengan melalui kajian tafsir dan selanjutnya mereka pun telah hapal juz 30. Subhanallah bila tujuan ini tercapai, niscaya ROHIS dapat menjadi pilar-pilar dakwah sekolah dan kebanggaan orang tua dan guru.

4. PERENCANAAN KEUANGAN
Program yang telah dibuat begitu banyak. Program yang telah dibuat dipastikan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana dalam perjalanan dakwah ini menjadi darah segar yang akan mampu menghidupkan mesin-mesin dakwah yang akan siap bekerja. Hal ini sesuatu yang tak dapat dipungkiri. Disinilah letak ROHIS memiliki kekuatan lebih dibanding organisasi ekstrakurikuler lain. Keterbatasan dan banyaknya program yang harus di buat melahirkan sebuah KEMANDIRIAN, KREATIVITAS DAN KEBERANIAN untuk mencari sumber dana-dana tersebut. Apakah hal ini sulit, tidak ! asalkan ada kemauan, keseriusan, kerja keras dari setiap kader dakwah insya Allah bisa. Dari mana saja pintu-pintu mencari dana untuk membiayai kegiatan ROHIS , antara lain :

1. Pemberdayaan dana Alumni
ROHIS dalam setiap tahunnya pastilah melahirkan generasi-generasi Alumni. Hal ini sudah merupakan keharusan lahirnya kader-kader dakwah berikutnya. Bila ROHIS telah berdiri sejak tahun 90 an, hitung sudah berapa banyak alumni yang sudah bekerja. Berapa banyak alumni yang sudah mapan dari pekerjaan dan bisnisnya. Inventarisir keberadaan alumni-alumni tersebut, silahturahimkan mereka dan ajak mereka untuk menjadi “ KAKAK ASUH “ ROHIS . Berikan mereka penawaran nominal rupiah untuk menjadi kakak asuh ROHIS setiap bulannya. Insya Allah dengan kepedulian yang mereka miliki akan bersedia. Kendala umumnya bukan pada adakah alumni yang bersedia membantu dana setiap bulan. Pastilah banyak alumni yag menyumbang . Namun hal yang utama adalah keseriusan kader dakwah sekolah untuk menjemput dana –dana tersebut, mengingatkan alumni setiap bulannya , dan membuat laporan keuangan yang baik. Bila 3 hal ini dilakukan , insya Allah ROHIS akan memiliki dana –dana segar yang dapat dibelikan untuk membiayai projek dakwahnya.

2. Manggung, Mengamen dan Bazaar sekolah.

Kata-kata diatas mungkin hal yang sedikit aneh untuk mencari dana. Diluar kebiasaan dan secara kasat mata akan terasa sulit. Kita ingat bahwa program –progra yang dibuat ROHIS yakni salah satunya program keterampilan. Para anggota ROHIS memiliki keterampilan dalam Seni suara melalui Nasyid, Marawis. Keterampilan drama dalam kelompok-kelompok teater. Keterampilan bisnis melalui kegiatan membuat kerajinan tangan dan bazaar-bazaar sekolah yang rutin dilaksanakan. Hal ini adalah sebuah potensi besar. Bayangkan grup nasyid sekolah kita jadikan grup nasyid yang professional. Mereka tidak jauh lebih hebat dari tim nasyid Izzatul Islam dan Snada.

Dengan kemampuan nasyid tersebut, grup nasyid ROHIS dapat tampil diundang dalam acara-cara pernikahan, pentas seni, peringatan hari besar Islam disekolah ataupun kampus lain, dan beragam tempat yang dapat mereka “ manggung “. Insya Alah dalam setiap manggung ada uang yang mereka terima. Yah tinggal hitung-hitungan saja berapa yang untuk klub nasyid tersebut dan berapa yang disumbang ke ROHIS. Begitu pula dengan grup teater dan marawis. Mereka akan bisa juga mengikuti jejak grup nasyid untuk melakukan pementasan, di undang untuk mengisi hiburan dalam acara-acara keislaman. Saya dahulu mempunyai pengalaman grup teater. Kami diundang di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus. Subhannalah kami ‘ di bayar “ sampai dengan 500 ribu bahkan lebih untuk setiap pementasan kami. Jumlah nominal yang besar bagi kami maupun ROHIS.

Hal yang sama bisa dilakukan dengan melakukan bazaar di sekolah. Kita dapat menjual buku-buku Islam, video-video Islami, kerajinan tangan, alat tulis dan sebagainya. Keuntungan yang didapatka juga luar biasa. Misalkan saja dalam satu harinya pendapatan setiap bazaar 500 ribu, Bazaar dilaksanakan selama 3 hari , total pendapatan 1, 5 juta. Berapa laba yang didapatkan , umumya 30 % dari pendapatan. Subhanallah dalam 3 hari ROHIS akan memiliki keuntungan dari 1,5 juta x 30 % sama dengan 450 ribu rupiah. Jumlah yang tidak sedikit bukan ? Sayangnya potensi-potensi ini dilupakan. Kader-kader dakwah kurang kreatif dan serius mengelola potensi keterampilan –keterampilan yang dimiliki anggota ROHIS. Memang akan berat diawal-awal , kita akan melatih anggota ROHIS luar biasa sulitnya. Namun seiring waktu kita pun di ROHIS dapat menuai hasilnya kelak.

Sebenarnya masih banyak cara-cara lain untuk mendapatkan dana bagi kegiatan ROHIS, misalkan dengan mengelola dana yang didapatkan dari sekolah untuk setiap kegiatan ekstrakurikuler . Selain itu mengajukan proposal-proposal kegiatan kepada instansi-instansi perusahaan. Beberapa perusahaan concern dalam bidang pengembangkan kualitas sumberdaya manusia, concern dalam bidang pendidikan dan concern dalam bidang kegiatan keagamaan.

Semua pembahasan mengenai perencanaan dalam mengelola ROHIS adalah buah pikiran dan berdasarkan pengalaman selama berkecimpung didalam dakwah sekolah. Masih banyak hal lain yang dapat menjadi pembahasan kelak bagaimana menjadikan ROHIS tumbuh menjadi organisasi pencetak generasi pelajar yang SHOLEH, CERDAS DAN TERAMPIL.

Tulisan ini masih bersambung dan akan dikembangkan jauh lagi . Insya Allah. Semoga Allah SWT memudahkan langkah dakwah ini dan selalu meridhoi aktivitas dakwah yang kecil ini. Wallahu alam bisshowab. Acep Hidayat.

13 Oktober 2010

Memulai Bisnis = Berpikir gagal

Pertanyaan lama tentang hal mengapa memulai bisnis baru yang sebelumnya memang telah memiliki salah satu bisnis telah berjalan menjadi sedemikian sulit terjawab sudah. Sejak 5 tahun yang lalu saya telah berkecimpung di bisnis audio visual bersama dua orang teman. Dalam fase bisnis waku 5 tahun telah membuktikan sebuah kesurvive an. Telah membuktikan sedikit daya tahan dan mental dari pelaku bisnis tersebut. Setelah fase tersebut hendaklah bisnis yang telah digeluti seharusnya dapat tumbuh menjadi lebih besar atau biasa di sebut fase “ Growth“ . Namun yang terjadi berkebalikan dengan bisnis yang kami lakukan . Grafik pendapatan mengalami penurunan , pelanggan semakin sedikit dan hampir-hampir dilanda kebangkrutan ( sekarang kami tetap bertahan ). Usaha kami terkena dampak dari perkembangan teknologi, Orang kini dengan mudahnya mengambil gambar video maupun foto dengan kamera yang dimiliki, orang semakin banyak yang bisa melakukan editing foto dan video. Selain itu kami juga terkena dampak dari persaingan harga yang tak kompetitif lagi. Bila tak disikapi secara cepat maka kami hanya tinggal menunggu waktu untuk “ Gulung karpet dan isi-isinya “.

Langkah-langkah membaca keadaan tersebut sebenarnya telah kami lakukan sejak satu tahun yang lalu. Kami harus segera melakukan sebuah diferesiansi usaha dan bahkan membuka usaha yang baru. Terkait usaha yang baru terlontarlah beberapa ide yang terangkum. Misal bisnis kelinci, pertanian jamur, rumah makan bebek, surabi, distro & clothing. Kami telah melakukan riset, mengunjungi tempat-tempat terbaik usaha itu berada. Apakah kami telah berhasil memilih salah satunya , ternyata tidak ! Dari pilihan-pilihan tersebut belum ada satupun yang kami jalankan. Kami hanya riset, membuat plan, membedah kebutuhan keuangan, menentukan lokasi, mencari calon-calon karyawan. Kami terlibat dalam diskusi-diskusi panjang yang tak membuahkan hasil kesepakatan mana yang akan pasti dijalankan. Apa yang sebenarnya terjadi pada kami padahal 5 tahun yang lalu ketika memulai bisnis audio visual tersebut kami berhasil melakukannya.

Nasihat seorang kawan pada malam ini, telah membuka pikiran saya. Mengapa begitu sulitnya membuka bisnis yang ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya karena kami telah mengalami mental block. Kami harus membuka pikiran lebar-lebar bahwa ketika memulai suatu bisnis, mulailah dengan BERPIKIR GAGAL. Berpikir dengan kaca mata urutan 10 bukan urutan 1. Berpikir bukan keberhasilan -keberhasilan yang akan didapatkan. Dengan BERPIKIR GAGAL sesungguhnya kita telah mempersiapkan mental yang besar apabila ternyata ketidak berhasilan kita dapatkan di bisnis yang baru dibuka. Kita tidak akan menjadi sosok yang stress , putus asa dan tak berani untuk memulai kembali bisnis. Berapapun modal yang kita keluarkan , misal 50 juta, 200 juta. 1 Milyar tak masalah hilang. Kita menganggap itu hanyalah sebagai modal belajar kita. Istilahnya ketika kita memulai bisnis “ Nothing to lose “ saja.

Luar biasa bila kacamata ini dipakai oleh kita. Apapun permasalahan yang dihadapi oleh bisnis yang baru dibuka kita sikapi dengan enjoy. Diri kita memang sudah mengetahui pasti akan ada permasalahan. BERPIKIR GAGAL bukanlahlah berati kita merencanakan kegagalan tersebut. Namun ini adalah sebuah langkah berpikir terbalik saja. Berpikir dengan hal yang tak biasa. Bukankah itu memang ciri dari seorang entrepreneur. BERPIKIR GAGAL akan menghilangkan KETAKUTAN, BERPIKIR GAGAL akan memberikan ketenangan, BERPIKIR GAGAL akan melahirkan keberanian. BERPIKIR GAGAL akan menjadi langkah keberhasilan.

Mulai hari ini saya dan teman-teman akan membuka barrier-barrier (penghalang ) pikiran. Penghalang yang telah menggembok pikiran, menjatuhkan mental dan membuat ketakutan-ketakutan tak beralasan. Dengan memulai positif thingking, positif feeling dan positif action. Insya Allah usaha baru yang akan diretas akan berjalan.

Pekanan Kelompok

Acep Hidayat
30 September 2010

Hanya Kepada-Nya kita mengadu

” Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ” ( Alam Nasrah : 6 )

Kehidupan di dunia ini, khusunya bagi kita yang hidup di Jakarta terasa makin keras saja. Tak terkirakan pergulatan waktu dan pikiran kita untuk bertahan hidup. Tengoklah kemacetan lalu lintas pagi hari , seakan manusia-manusia di Jakarta dan sekitarnya tergerak dalam waktu yang bersamaan untuk mengejar nafkah, mereka keluar rumah untuk mencari penghidupan , berbondong-bondong menuju tempat kerja. berangkat sejak langit gelap , pulang dengan langit gelap pula.

Sebuah fragmen kehidupan yang menggambarkan bila kita tak bekerja keras maka kita akan tersisihkan dan mati di telan kejamnya ibukota. Sudah kerja keras ternyata tak menjamin keluar dari kesulitan. Problematika ekonomi menghadang kita. Bentuk kesulitannya beragam , misal kesulitan untuk makan sehari-hari, membayar kontrakan, membayar cicilan kendaraan, bagi yang sudah memiliki anak, kesulitan memenuhi susu sang buah hati, bayar sekolah, kebutuhan pakaian, dan sebagainya.

Menutupi kesulitan ekonomi tersebut dan desakan untuk menutupinya, timbul dalam rasa ingin agar orang lain mengetahui masalah tersebut dan berharap untuk membantunya. Namun sebelum perasaan ini berucap kepada orang yang ingin kita minta tolong, rasanya berat, ada sebuah rasa ahh..malu, nanti kalo kita ga dapat bantuan , ah ini hanya akan membuat diri terhina, apakah orang tersebut akan membantu. pertanyaan itu terus bergelayut dan akhiranya kita mundur untuk tidak minta bantuan orang lain. Bisa jadi sikap pesimis kita dilatari karena sikap-sikap individualis manusia Jakarta, ungkapan ” boro-boro bisa bantu orang untuk diri sendiri aja sulit. ” atau kadang-kadang ketika kita ingin menceritakan masalah kita, eh ternyata orang lain terlebih dahulu curhat tentang masalahnya. Lantas apakah kita akan berputus asa dalam menghadapi kesulitan , menghadapinya sendiri. Tidak ! sekali-kali tidak, kita masih memiliki Allah , Tuhan Semesta Alam yang memiliki dunia dan seisinya.

Keyakinan Aqidah kita mengatakan bahwa Allah Sang Pemberi rejeki, berarti manusia yang memberikan kita penghidupan hanyalah perantara. Keyakinan ini akan menggugah kita untuk berusaha mendekati-Nya dan memohon kepada-Nya. Marilah sejak hari ini kita ” Gelar Sajadah ” ditengah malam kita mengemis kasih Allah. menangislah menyadari kelemahan kita. Menangislah dengan keyakinan tanpa upaya dalam hidup kita selain karena kemurahan-Nya. Mengadu kepada-Nya tidak membuat kita tampak lemah, tampak terhina , tampak malu , justru akan melahirkan kekuatan baru dan kecintaan mendalam kepada Sang Penggengam kehidupan.

Setelah Gelar Sajadah di malam hari , kita berusaha melakukan amal-amal ketaatan lainnya. Sholat Shubuh berjamaah, tilawah Al Quran beberapa halaman, Sholat Dhuha dirutinkan , sholat fardu lain pun berjamaah, dan berinfak setiap hari. Insya Alah akan muncul keajaiban-keajaiban dan pertolongan Allah. Hal paling minimal adalah lahirnya ketenangan diri kita akan semua masalah kehidupan. Kita percaya kepada-Nya , bila ternyata Allah menunda pertolongan-Nya bukan berarti ia membenci kita, menghinakan kita… bukan itu…tetapi justru bagaimana sikap kita menghadapi ujian hidup akan menjadi amalan sholeh di akhirat. Bila memang pada akhiranya kita masih tetap sulit, maka bersabarlah karena Allah sedang mengangkat kesulitan dunia kita dengan kemudahan akhirat.

Marilah kita mencobanya sejak hari ini. Ya Rabb permudah kami untuk menjalankannya.

Sebuah refleksi atas atas cobaan

( Acep Hidayat , 20 September 2010 )