Revitalisasi ROHIS

by acephidayat

Beberapa waktu lalu dalam harian Kompas saya membaca sebuah artikel tentang matinya organisasi dalam lingkungan kampus. Bahasan ini mengenai organisasi kampus yang sedikit demi sedikit telah kehilangan “ pengikutnya “ atau anggotanya. Beragam argumentasi dilontarkan untuk menjelaskan mengapa fenomena ini terjadi. Beberapa alasan yang dikemukan bahwa :

1. Mahalnya tingkat biaya pendidikan , membuat mahasiswa berpikir untuk supaya lulus lebih cepat dan memperoleh nilai yang bagus. Dengan kelulusan semakin cepat membuat mereka dapat terhindar dari mengeluarkan biaya kuliah yang berlebih . Buat mereka untuk transport, makan, fotocopy membutuhkan biaya yang tidak sedikit. So ngapaian lama-lama di kampus begitu kata mereka.

2. Gerakan mahasiswa seperti kehilangan momentum untuk melakukan aksi-aksi. Mahasiswa sebagai agen perubahan sebagian melihat kehidupan berbangsa sudah berjalan normal , tak ada yang dikritisi. Berbeda dengan momentum tahun 98 yang penuh gejolak social, momentum unuk melakukan perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga bagi mahsiswa inilah kesempatan untuk melakukan unjuk rasa. Mahasiswa bersatu dengan tujuan utama meruntuhkan rejim pemerintah otoriter. Mahasiswa dan rakyat memiliki “ musuh bersama “ yang harus dihancurkan.
Padahal bila mahasiswa kembali mengasah kepekaan sosialnya . Kini bukan lagi saatnya unjuk rasa melainkan “ unjuk karya “ . Melakukan penelitian-penelitian ilmiah, membuat projek-projek pengembangan ekonomi masyarakat, Produk-produk yang dapat dinikmati oleh masyarakat dan lain sebagainya.

3. Matinya kreativitas yang ditawarkan organisasi kampus tersebut. Perubahan teknologi yang cepat dan berdampak kepada perubahan social pergaulan tak mampu disikapi secara cepat. Mahasiswa dan sebagian besar orang kini khususnya di perkotaan sudah memiliki dua dunia yakni dunia nyata dan dunia maya. Intensitas keduanya sekarang hampir seimbang untuk berada di kedua alam tersebut. Bagi sebagian kalangan kumpul-kumpul hanya membuang waktu , tak ada ada manfaatnya. Mereka lebih asyik bergabung dalam komunitas jaringan social yang ada di internet entah Facebook, twitter, Purk dan sebagainya.

Bahasan tentang matinya organisasi dalam artikel tersebut semakin lengkap kupasannya ketika saya membaca dari artikel detik.com. Bapak Wakil presiden meminta organisasi pramuka untuk direvitalisasi kembali. Alasannya kini pramuka pun telah kehilangan pengikutnya. Pramuka telah ditinggalkan generasi muda. Pramuka bagai sosok yang telah menua dan kehilangan gairahnya untuk bergerak. Pramuka tak lagi hadir disambut dengan hangat disekolah –sekolah . Pramuka kehiangan perannya melatih kemandirian, keterampilan para pelajar.

Ungkapan Bapak Wakil Presiden seperti mewakili dari perasaan orang-orang tua kita dahulu yang merasakan begitu bermanfaanya gerakan pramuka dalam pengembangan diri, pengembangan karakter, pengembangan social namun kini mulai lenyap .

Wacana revitalisasi ini ditanggapi secara serius oleh Bapak Menpora Andi Mallarangeng. Beliau menyiapkan tim khusus untuk melakukan kajian apa saja yang bisa dilakukan perubahan-perubahan dalam tubuh Pramuka. Beberapa perubahan yang akan dilakukan antara lain perubahan pada baju seragam pramuka. Apakah warna coklat yang ada akan tetap dipertahankan, apakah pramuka tetap memakai peci, apakah pramuka tetap menggunakan tongkat kebesarannya dalam menemani setiap langkah kegiatan mereka. Khusus untuk baju mereka akan memperbandingkan dengan organisasi pramuka yang ada di seluruh dunia. Kurang lebih ada 150 negara yang tergabung dalam organisasi pramuka dunia.

Selain perubahan pada seragam . Menpora juga meminta untuk melakukan perubahan pada kurikulum pramuka. Misal dengan penambahan materi internet , tak heran nanti bila mereka mengadakan kemping, laptop salah satu perangkat yang akan dibawa, pengenalan materi dirgantara dan aero modeling. Materi ini akan menambah keterampilan baru yang akan dimiliki oleh anggota pramuka.

Untuk beberapa saat selesai membaca artikel tentang pramuka tersebut, pikirannya saya teringat pada ROHIS (ROHANI ISLAM ), sebuah organisasi yang telah “ melahirkan saya “ .Organisasi sekolah yang tumbuh juga bersama Pramuka. Ekskul yang mendidik pemikiran, mental, fisik, kepribadian dengan nilai-nilai Islam dan berupaya menciptakan pelajar-pelajar muslim menjadi pribadi yang utuh. Begitu besar jasa ROHIS telah membesarkan saya dan rekan-rekan saya sehingga mereka menjadi tokoh-tokoh hebat dalam lingkungannya masing-masing. Ini sebuah pendapat saya yang berangkat dari penglihatan langsung” anak-anak yang dahulu aktif di ROHIS “ umumya mereka memiliki tingkat keberhasilan yang lebih dibanding yang tidak aktif di ROHIS. Bila mereka aktif di ROHIS SMP umumnya diterima di SMU/SMK negeri, Kemudian aktif pula di ROHIS SMA mereka umumnya pula diterima perguruan-perguruan tinggi negeri favorit . Bila mereka sudah bekerja menjadi sosok-sosok yang mandiri dan memilki jenjang karir yang bagus.

BAGAIMANA DENGAN ROHIS KINI ? itulah pertanyaan yang mengelayut dalam pikiran saya dan menimbulkan keresahan. Sebagai contoh ROHIS SMP yang dulu membesarkan saya kini : :
1. Anggotanya sangat sedikit sekali ..hmm bila dahulu ketika Acara Penerimaan anggota ROHIS baru peserta yang mendaftar sampai 250 orang kini yang baru mendaftar kisaran 20 orang,

2. prestasi akedemis turun , indikatornya kini anak ROHIS tak mendominasi lagi peringkat 10 besar dikelasnya , Anak ROHIS yang masuk SMU/SMK negeri persentasenya tak sampai 40 % dari jumlah anggota ROHIS .

3. Belum lagi tentang kegiatan , tak ada lagi kreativitas ( kegiatan hanya berkisar Baca Al Quran , games..Baca Al Quran), Program yang di buat hanya bersifat reaktif, besok apa ya, Bulan ini apa ya..begitu seterusnya ..belum dibuat plan tahunan atau program berjangka. Kini tak ada lagi kegiatan yang heboh, bervariasi dan membuat decak kagum “ seluruh guru dan pelajar lainnya “.

4. Keaktifan kakak –kakak alumninya. Kehadiran mereka sangat minim , keminiman ini adalah gambaran kekurang seriusan untuk mengelola ROHIS . Saling melempar tanggung jawab dan tak mampu menjadi sosok untuk mengayomi adik-adiknya lagi.

Fenomena ini juga saya temui pada ROHIS-ROHIS di sekolah lain. ROHIS berada pada kondisi “ Hidup Segan matipun Segan “ .

Bila tak percaya ada baiknya kita kembali tengok ke lapangan tempat ROHIS melakukan kegiatan. Bila hal-hal diatas tak terjadi bersyukurlah kita kepada Allah SWT yang masih menjaga bangunan dakwah tersebut di sekolah-sekolah kita. Namun bila memang terjadi ini harus segera menjadi perhatian kita.

Bila Bapak wakil presiden menghawatirkan perjalanan pramuka kedepan. Kita berharap bahwa Bapak Presiden yang menghawatirkan kondisi ROHIS kini. Ia meminta kepada Pembina-pembina ROHIS untuk turut juga merevitalisasi ROHIS. Perasan beliau ini sebagai sebuah ungkapan atas begitu manfaatnya ROHIS hadir ditengah-tengah bangsa Indonesia. ROHIS yang mampu mengangkat keimanan dan ketaqwaan, mengangkat moralitas pelajar Indonesia.

Namun sayang, sampai detik ini Bapak Presiden belum melontarkan kata-kata tersebut. Karena itu menurut saya, kata-kata revitalisasi ROHIS ini harus keluar dari kita. Orang –orang yang juga lahir di ROHIS. Kajian yang mendalam, lengkap dan menyeluruh perlu segera dilakukan. Bukan hanya misal dengan melakukan perubahan seragam , namun juga perlu menggodok kurikulum seperti apa yang kita berikan kepada adik-adik kita di ROHIS. Sebuah program pembelajaran yang tak disusun secara main-main, reaktif , dan tak memiliki tujuan yang jelas. Sebuah program yang mampu memikat para pelajar untuk berbondong-bondong masuk ROHIS. Sebuah Program yang update dengan pekembangan jaman. Saya membayangkan kegiatan ROHIS para anggotanya juga menjinjing laptop. Pemberian materi yang dapat diakses via internet. Para pembinanya menayangkan video ceramah mereka via youtube. Majalah ROHIS hadir dalam bentuk digital. Percakapan Kegiatan ROHIS dalam bahasa Inggris dan Arab. Dan ide-ide liar lain yang penuh kreativitas akan lahir.

Ini adalah sebuah opini dari saya. Sesungguhnya bila ada kekhilafan sesungguhnya ini datang dari pribadi saya, namun bila ada kebenaran sesungguhnya ini datang dari Allah SWT.
“ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ( Q.S As Shaff, 61: 4)

Hidayat
4 Agustus