Revolusi Ramadhan

by acephidayat

Kita jelang dan akan menjalani satu momen kebangkitan. Momentum Ramadhan. Inilah bulan yang dihormati dimasa jahiliyah, dan ketika Islam datang semakin dihormati dan dimuliakan. Di Bulan ini Allah SWT menurunkan AlQuran sebagai petunjuk bagi manusia. Jika selama ini kita melalaikannya, inilah saatnya menyadarkan jiwa akan hak-hak Ramadhan.

Momentum Ramadhan selalu hadir , menemani nuansa diri kita yang berbeda-beda. Kali ini ia datang ketika syiar dakwah berdiri tegak, berhadapan dengan kebatilan yang terbuka. Realitas sosial yang semakin menyudutkan kelemahan kita. Menggiring kelemahan itu dan memanfaatkannya sebagai pintu yang menyeret kita kepada abdi kelalaian, abdi kelemahan, dan abdi ketidakberdayaan.

Nuansa Ramadhan kita hari ini tidak cukup dengan membentuk resistensi pribadi . Ia akan dengan mudah diseret arus besar kelalaian zaman. Kita membutuhkan satu gerakan harmonis, satu arus tandingan, yang siap berhadap-hadapan. Yang meneguhkan semangat pertarungan yang kita miliki.
Maka kebutuhan untuk sampai ke sana , kita mulai dengan menyadari kelemahan realitas ini bersama, membersihkan diri bersama, dan bermuhasabah bersama; muhasabah komunitas.

RAMADHAN SPIRIT KEBAIKAN
Ramadhan selalu hadir dengan membawa spirit kebaikan yang besar. Allah SWT menjadikan bulan ini sebagai bulan yang agung. Memberikan keistimewaan yang banyak kepadanya, serta menjadikannya sebagai satu fase kehidupan yang paling berharga. Inilah momen khusus. Saat Allah membuka kesempatan untuk berada dekat dengan hambanya.
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa, apabila ia berdoa kepadaKu . “ ( Q.S Al –Baqarah : 186)

Kedekatan inilah yang penting untuk kita manfaatkan. Mengais Rahmat Allah SWT untuk menjadi spirit menghadapi seberat apapun beban dakwah yang terbentang. Kita sadar bahwa beban dakwah ini tidak terlepas dari sifatnya sebagai nilai yang menuntut petarungan. Sunnatulllah pertarungan adalah persiapan yang optimal, kerja keras yang penuh kesungguhan, dan harapan yang tidak pernah padam. Pada titik inilah kedekatan kepada Allah menemukan maknanya yang hakiki. Hanya saja bagaimana kita menjadikannya sebagai kesadaran kolektif, membentuknya menjadi arus kesadaran kolektif, membentuknya menjadi arus kesadaran bersama. Sehingga Alah satukan jiwa-jiwa kita ini dalam satu spirit kebaikan yang besar.

Inilah tujuan keberadaan Ramadhan kita kali ini.
Spirit kebaikan kolektif inilah yang kita inginkan menjadi misi Ramadhan ini. Mengajal sebanyak mungkin orang, tidak saja sekedar melihat kelemahan-kelemahan diri sendiri, melainkan melihat betapa banyak kelemahan-kelemahan yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Yang akhirnya berdampak melemahkan kualitas pribadi, sebaik apapun kita mempersiapkannya.

RAMADHAN SPIRIT KONTEMPLATIF
Ramadhan juga selalu membawa spirit kontemplatif pada diri kita. Seakan dihadirkan Alllah agar selalu ada kesempatan untuk menghitung kualitas diri. Momen Ramadhan selalu menyadarkan kita akan waktu yang berlalu .Membuat kita tersentak akan semakin dekatnya masa perhitungan, sekaligus melumpuhkan kecongkakan kita, saat kita tersadar belum melakukan apa-apa.

Nuansa kontemplatif ini terasa kental, bukan karena kita tidak bertaubat dimasa lain, melainkan karena kita menyadari keutamaan bulan Mulia ini. Nilai inilah yang menyadarkan bahwa Allah berkenan memberikan kesempatan berjumpa dengan keutamaan tersebut. Nilai yang mendorong usaha kita agar tidak ada waktu yang berlalu tanpa amal saleh.

Spirit kontemplatif Ramadhan hari ini mengajak kita untuk berhitung . Tidak saja kepada diri sendiri, melainkan kepada umat Islam seluruhnya. Betapa kelalaian kolektif yang dirancang sempurna, didukung dengan perangkat memadai, akan selalu mampu mementahkan sebagus apapun kualitas pribadi kita. Spririt kontemplatif ini mengajak kita berhitung atas kualitas kolektif. Dimana kelemahannya dan bagaimana mengatasinya. Selanjutnya mengarahkan kita untuk membuat perbaikan dengan rancangan kolektif pula.

Usaha-usaha kontemplatif pribadi dibingkai dengan kesadaran kolektif, sehingga arah perbaikan yang terjadi membentuk kesalehan kolektif. Kondisi inilah yang memungkinkan kita untuk bertahan dalam pertarungan hari ini.

Jadi hisablah diri sendiri, sebagai penyebab kelemahan orang lain. Dan upayakanlah diri sendiri menjadi inspirasi kebangkitan orang lain. Inilah subtansi spirit kontemplatif Ramadhan kita.

EPILOG
Dalam keadaan lapang, aman, tidak ada kerusakan lingkungan dan moral serta umat Islam beribadah dengan merdeka; kita bisa sampaikan salam perpisahan menjelang Ramadhan, dan mengatakan sampai berjumpa setelah sebulan kedepan. Lalu kita berhenti sesaat, untuk mengamalkan semua apa yang sudah kita pelajari selama ini. Menikmati syahdunya berkhalwat dengan Rabb Yang Mulai. Hal itu bisa saja kita lakukan, tetapi mungkin kelak.

Sekarang belum tiba masa itu. Ramadhan sekarang adalah saat kita hembuskan kembali semangat pasukan Badar. Mereka yang tidak masuk kedalam mihrab untuk menangisi kelemahan diri dan mengharapkan kebaikan sendiri-sendiri. Melainkan keluar dengan segenap semangat pertarungan, kegelisahan, kekhawatiran akan masa depan ummat dan dakwah ini.

Tuntutan realitas dakwah dan kehidupan umat Islam hari ini, sedikitpun tidak memberikan kompensasi bagi diri kita untuk istirahat, lalu tenggelam dalam kontemplasi pribadi. Bahkan sebaliknya momentum Ramadhan ini adalah saatnya menghitung kembali kenyataan umat. Saatnya mendapatkan gambaran yang jelas tentang kronisnya kesehatan umat Islam hari ini.

Kita berharap semua itu membangkitakan kemarahan yang meledakkan energi amal. Lalu kita keluar bersama untuk syiar dan penyadaran.
Inilah Ramadhan yang kita jelang dengan kesadaran berbeda. Kita tidak bermaksud merubah nunasa ruhiy yang memang khas milik Ramadhan. Kita juga tidak mengalihkan kesempatan untuk menghitung nilai diri dengan memperbanyak kebaikan dalam bulan ini. Kita hanya ingin membawa kenyataan ummat ke dalamnya. Menjadikannya sebagai sebab muhasabah kita, menjadikannya sebagai alasan beramal kita, dan menjadikannya sebagai tujuan peningkatan kualitas diri kita.

Semoga dengan itu Allah menjadikan Ramadhan bagi kita menjadi ruh yang sama seperti ruh para prajurit Badar, prajurit yang menaklukan Mekkah, dan prajurit yang telah membuktikan janjinya kepada Allah SWT. Amien…