“Kita adalah Sang Pencerah“

by acephidayat

Kita pantas galau melihat berita di televisi yang selalu menyuguhkan hal-hal buruk yang terjadi di negeri ini. Berita tentang tawuran antar kampung, konflik antara aparat keamanan dengan masyarakat, perilaku supir bus yang ugal-ugalan menelan nyawa penumpangnya, perampokan di toko emas dan perbankan, perilaku para pejabat publik yang terlibat dalam penyalahgunaan jabatan ataupun perselingkuhan dan kisah tak habis-habisnya tentang terorisme. Bila itu memang berita , itu adalah kabar yang kita terima dari media. Namun kerusakan di negeri ini juga kita rasakan dalam kenyataan hidup kita. Tetangga ada yang meninggal karena miras oplosan, Remaja mati over dosis dan terkena virus HIV, Sulitnya mengurus KTP dan SIM hingga memerlukan calo, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat kita miris terhadap kejadian yang menimpa bumi pertiwi.

Berita buruk yang terus disuguhkan kepada kita akan terekam dalam memori otak terlebih bila berita tersebut terjadi berulang-ulang. Bisa di bayangkan otak kita berisi sampah-sampah informasi. Efek yang muncul dari informasi-informasi sampah tersebut akan melahirkan sikap apatis dan tidak peduli akan permasalahan yang terjadi dilingkungannya.

Orang yang hatinya masih memiliki nurani akan merasakan kerusakan yang terjadi di masyarakatnya. Dirinya gelisah , dan ingin melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kondisi yang ada. Namun sepertinya bicara konteks individu-individu yang ingin melakukan perbaikan sangatlah sedikit. Entah benar atau tidak manusia-manusia indonesia kini sibuk dengan urusannya sendiri. Hanya segelintir yang merisaukan kondisi masyarakatnya. Segelintir itupun akan semakin menyusut jumlahnya karena ada yang hanya risau tetapi tidak berani melakukan perbaikan.

Melakukan perbaikan itu mahal bung..butuh pengorbanan, kesabaran, kekuatan dan keistiqomahan. Belum lagi bila ternyata upaya perbaikan tersebut mendapat penolakan dari masyarakat karena keburukan bagi mereka telah menjadi sebuah kemapanan “ SISTEM “. Apakah kita akan melemah dan membiarkan saja keadaan buruk yang ada di masyarakat.

Sebuah inspirasi memang bisa datang dari mana saja. Sebuah Film Religi yang dirilis oleh sutradara Hanung Bramantyo berjudul “ Sang Pencerah “ ternyata telah memberikan sebuah ide besar bagaimana cara untuk melakukan sebuah perubahan di masyarakat. Walaupun film ini tak lepas dari kritik yang menjadi sebuah catatan tersendiri. K.H Ahmad Dahlan sang tokoh abad 19 di Indonesia memulai langkah besarnya di Kauman Yogyakarta. Beliau sedari muda telah merasakan ketidakberesan yang terjadi dilingkungannya terutama tentang bagaimana pemikiran dan praktek keagamaan ada yang melenceng dari apa yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW. Misalnya tentang budaya khurapat, tahayul, mistis, pengagungan berlebihan terhadap ulama dan pemimpin dan sebagainya. Kegelisahan ini pastilah lahir dari kondisi keimanan dan ketaqwaan yang begitu baik .

Bagaimana ia melakukan perubahan ? Padahal di kala itu usianya baru menginjak belasan tahun. Dirinya bukanlah siapa-siapa dalam struktur masyarakat kala itu. Ia berpikir bahwa ia harus mempunyai bekal yang cukup dalam ilmu agama, dan menjadi tokoh panutan kelak . Tak tanggung -tanggung ia “ nekat “ keluar dari tempat kelahirannya ke negeri Mekkah. Kota utama tempat hadirnya Islam. Ia belajar Islam langsung dari sumbernya. Ini bisa diartikan ia keluar dari zona nyaman dan berani mengambil resiko . Dan nyatanya berhasil pengorbanannya itu. Setelah pulang dari Mekkah ia telah mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai Al Islam. Pemikirannya pun mendunia tidak sempit karena ia di sana berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai bangsa.

Apa artinya dari proses menuntut ilmu KH Ahmad Dahlan ke Mekkah ? Ini artinya siapapun yang ingin melakukan sebuah perubahan harus memiliki bekal keilmuan yang cukup. Agar dengan literasi ilmunya ia dapat menjawab pertanyaan umat dan mampu mengeluarkan pemikiran masyakat dari kebodohan. Kebodohan bila telah menyerang sel-sel saraf kita akan membuat diri taklid ( mengikuti ) apa kata orang lain.

KH. Ahmad Dahlan ingin melakukan perubahan pemikiran masyarakatnya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Beragam penolakan muncul , menjurus kearah konflik horizontal dengan tokoh-tokoh ulama lain karena di sangkakan memiliki pemahaman Islam baru yang sesat. KH Ahmad Dahlan tetap kokoh pada prinsipnya. Hal-hal yang menyeleweng dari ajaran Rasulullah memang perlu di luruskan. Mengapa KH Ahmad Dahlan bisa tetap istiqomah dengan keyakinannya karena ia telah mempunyai pondasi keilmuan yang kuat bersumber dari Al Quran dan As Sunnah serta apa yang ia lakukan penuh keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan.

Penolakan ulama dan masyarakat dengan “ paham “ barunya membuat ia di cap kafirlah, wahabilah, sesatlah dan sebagainya. Dalam fragmen konflik tersebut ada sebuah kondisi ia tidak kuat melihat masyarakat dan ulama lain membencinya. Pikirannya mengatakan sudahlah berdamailah dengan budaya dan nilai-nilai masyarakat yang sudah sejak ada dari “sononya “. Hampir saja ia memutuskan untuk lari dari perubahan dan berdamai dengan kondisi yang ada. KH Ahmad Dahlan menyemangatkan kembali dirinya, keyakinannya dan bangkit . Bagi kita ini adalah sebuah bentuk arti ketika berbicara tentang perubahan pastilah penolakan terjadi namun sebagai manusia kuat, kita harus selalu siap bangkit dan tak pernah berputus asa .

Setelah bekal keilmuan KH Ahmad Dahlan miliki, keyakinan yang kokoh akan prinsip telah menghunjam, apa lagi cara melakukan “ pencerahan “ atau perubahan yang ia lakukan ? . Ia membuat sebuah langkah kaderisasi . Menyiapkan murid-murid yang siap menerima pemikiran dan ide besarnya. Apakah muridnya itu banyak. Tidak !!! muridnya hanyalah segelintir , namun jangan di kirakan akan akan semangat dan militansi murid-muridnya tersebut. Keyakinan akan Al Haq yang telah dimiliki K. H Ahmad Dahlan juga menular kepada murid-muridnya. Ia sadar untuk melakukan pencerahan tidak bisa sendiri , beban harus dipikul bersama-sama dan harus menjadi gelombang manusia yang siap berubah.

Memahami kaderisasi ini memberikan arti bagi kita bahwa Nol besar bila ide perbaikan hanya ada diri kita sendiri. Ide dan semangat perubahan harus di tularkan kepada orang lain. Bagaikan sebuah virus, sehingga semua orang harus terjangkit virus perubahan. Kaderisasi harus matang dan kita harus selalu siap merawat murid-murid tersebut agar mereka tumbuh dengan matang menjadi manusia manusia perubahan.

Hal yang sangat menarik adalah siapa sajakah murid-murid yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan. Ketika orang-orang tua tak bisa menerima idenya. KH Ahmad Dahlan menawarkan idenya kepada anak-anak kecil dan anak-anak muda. K.H Ahmad Dahlan tidak malu mengajar anak-anak walau ia telah sepuh. Keyakinannya sederhana bahwa anak-anak adalah kertas putih yang siap dituliskan apa saja. Bila hal-hal baik yang tertulis dalam dirinya , insya Allah kelak ia akan menjadi orang baik.

Apa yang terjadi dengan KH Ahmad Dahlan persis dengan apa yang dialami Rasulullah. Orang-orang yang menerima “ Ide “ Rasulullah adalah paling banyak dari anak-anak muda bahkan ada yang usianya masih belia.

Pelajaran kita dapatkan bahwa ketika kita membutuhkan orang-orang lain dalam perubahan tak dapat kita temukan tidak mengapa kita memulai perubahan itu dari mendidik anak-anak kecil, anak-anak muda yang konsekuensinya membutuhkan waktu yang panjang untuk menyiapkan diri mereka menjadi agen perubahan. Sejak saat ini kita tak boleh melecehkan bila ada orang-orang yang puluhan tahun masih berkutat mendidik anak-anak kecil setelah melihat rekam jejak KH Ahmad Dahlan dan Nabi Muhammad SAW.

Bila kita urai dari pembahasan diatas K.H Ahmad Dahlan dalam melakukan perubahan yakni dengan beberapa langkah : Menyiapkan keilmuan, Keyakinan yang kuat, Menyiapkan kader-kader, Memulai dari langkah kecil ( mendidik anak-anak kecil dan anak muda ). Ada 2 hal lagi yang ia lakukan yakni pertama dengan membuat sebuah perkumpulan “ Muhammadiyah “ . Perkumpulan ini adalah sebuah pelembagaan dari perubahan. Ide-ide perubahan yang dirangkai dalam sebuah perkumpulan atau organisasi akan menjamin ide besar perubahan ini akan terus hidup walau sang pemilik ide telah wafat. Mengapa ide ini akan terus hidup karena ini adalah ide kebenaran. Sampai akhir dunia pun masih akan ada pengusung-pengusung kebenaran. Ternyata bila kita tilik bahwa membuat perkumpulan untuk melakukan perubahan tak hanya milik KH Ahmad Dahlan. Dr. Wahidin Sudiro Husodo mendirikan Budi Utomo, Soekarno mendirikan PNI, Moh. Hatta Mendirikan Perhimpunan Indonesia, Hasan Al Banna mendirikan Ikhwanul Muslimun dan masih banyak tokoh-tokoh lain pun melakukan hal serupa.

Hal kedua dan terakhir yang menjadi catatan untuk melakukan perubahan KH Ahmad Dahlan adalah dengan mendekati orang-orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh ulama. Biarkan mereka juga merasakan ide perubahan itu. Bila mereka menolak , maka kita harus tetap berlaku santun dan mengajak mereka dalam diskusi-diskusi yang mencerdaskan. Ini bisa kita contoh dan terapkan dalam lingkungan kita .

Kiranya cara-cara yang diterapkan KH Ahmad Dahlan dapat menjadi role model untuk melakukan perbaikan-perbaikan di masyarakat. Role model KH Ahmad Dahlan tersebut telah sukses, memunculkan hasil ribuan sekolah, Rumah Sakit, puluhan Universitas dan lembaga sosial dan pendidikan yang tersebar di Indonesia.

Kita adalah “ Sang Tokoh Pencerah “ abad ini, apapun peran kita, dimanapun kita berada , kapanpun waktu kita . Nilai-nilai kebaikan, perbaikan masyakat harus tetap muncul. Hidup kita di nilai dari seberapa besar manfaat diri kita untuk orang lain. Bila Sang Pencerah telah banyak lahir di negeri ini, Insya Allah negeri ini akan menjadi negeri yang damai , makmur , adil dan di berkahi Allah SWT.

“ Kamu ( umat Islam ) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT.

( QS. Al Imran : 110 )

Hidayat

21 September 2010