Hanya Kepada-Nya kita mengadu

by acephidayat

” Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ” ( Alam Nasrah : 6 )

Kehidupan di dunia ini, khusunya bagi kita yang hidup di Jakarta terasa makin keras saja. Tak terkirakan pergulatan waktu dan pikiran kita untuk bertahan hidup. Tengoklah kemacetan lalu lintas pagi hari , seakan manusia-manusia di Jakarta dan sekitarnya tergerak dalam waktu yang bersamaan untuk mengejar nafkah, mereka keluar rumah untuk mencari penghidupan , berbondong-bondong menuju tempat kerja. berangkat sejak langit gelap , pulang dengan langit gelap pula.

Sebuah fragmen kehidupan yang menggambarkan bila kita tak bekerja keras maka kita akan tersisihkan dan mati di telan kejamnya ibukota. Sudah kerja keras ternyata tak menjamin keluar dari kesulitan. Problematika ekonomi menghadang kita. Bentuk kesulitannya beragam , misal kesulitan untuk makan sehari-hari, membayar kontrakan, membayar cicilan kendaraan, bagi yang sudah memiliki anak, kesulitan memenuhi susu sang buah hati, bayar sekolah, kebutuhan pakaian, dan sebagainya.

Menutupi kesulitan ekonomi tersebut dan desakan untuk menutupinya, timbul dalam rasa ingin agar orang lain mengetahui masalah tersebut dan berharap untuk membantunya. Namun sebelum perasaan ini berucap kepada orang yang ingin kita minta tolong, rasanya berat, ada sebuah rasa ahh..malu, nanti kalo kita ga dapat bantuan , ah ini hanya akan membuat diri terhina, apakah orang tersebut akan membantu. pertanyaan itu terus bergelayut dan akhiranya kita mundur untuk tidak minta bantuan orang lain. Bisa jadi sikap pesimis kita dilatari karena sikap-sikap individualis manusia Jakarta, ungkapan ” boro-boro bisa bantu orang untuk diri sendiri aja sulit. ” atau kadang-kadang ketika kita ingin menceritakan masalah kita, eh ternyata orang lain terlebih dahulu curhat tentang masalahnya. Lantas apakah kita akan berputus asa dalam menghadapi kesulitan , menghadapinya sendiri. Tidak ! sekali-kali tidak, kita masih memiliki Allah , Tuhan Semesta Alam yang memiliki dunia dan seisinya.

Keyakinan Aqidah kita mengatakan bahwa Allah Sang Pemberi rejeki, berarti manusia yang memberikan kita penghidupan hanyalah perantara. Keyakinan ini akan menggugah kita untuk berusaha mendekati-Nya dan memohon kepada-Nya. Marilah sejak hari ini kita ” Gelar Sajadah ” ditengah malam kita mengemis kasih Allah. menangislah menyadari kelemahan kita. Menangislah dengan keyakinan tanpa upaya dalam hidup kita selain karena kemurahan-Nya. Mengadu kepada-Nya tidak membuat kita tampak lemah, tampak terhina , tampak malu , justru akan melahirkan kekuatan baru dan kecintaan mendalam kepada Sang Penggengam kehidupan.

Setelah Gelar Sajadah di malam hari , kita berusaha melakukan amal-amal ketaatan lainnya. Sholat Shubuh berjamaah, tilawah Al Quran beberapa halaman, Sholat Dhuha dirutinkan , sholat fardu lain pun berjamaah, dan berinfak setiap hari. Insya Alah akan muncul keajaiban-keajaiban dan pertolongan Allah. Hal paling minimal adalah lahirnya ketenangan diri kita akan semua masalah kehidupan. Kita percaya kepada-Nya , bila ternyata Allah menunda pertolongan-Nya bukan berarti ia membenci kita, menghinakan kita… bukan itu…tetapi justru bagaimana sikap kita menghadapi ujian hidup akan menjadi amalan sholeh di akhirat. Bila memang pada akhiranya kita masih tetap sulit, maka bersabarlah karena Allah sedang mengangkat kesulitan dunia kita dengan kemudahan akhirat.

Marilah kita mencobanya sejak hari ini. Ya Rabb permudah kami untuk menjalankannya.

Sebuah refleksi atas atas cobaan

( Acep Hidayat , 20 September 2010 )