Memulai Bisnis = Berpikir gagal

by acephidayat

Pertanyaan lama tentang hal mengapa memulai bisnis baru yang sebelumnya memang telah memiliki salah satu bisnis telah berjalan menjadi sedemikian sulit terjawab sudah. Sejak 5 tahun yang lalu saya telah berkecimpung di bisnis audio visual bersama dua orang teman. Dalam fase bisnis waku 5 tahun telah membuktikan sebuah kesurvive an. Telah membuktikan sedikit daya tahan dan mental dari pelaku bisnis tersebut. Setelah fase tersebut hendaklah bisnis yang telah digeluti seharusnya dapat tumbuh menjadi lebih besar atau biasa di sebut fase “ Growth“ . Namun yang terjadi berkebalikan dengan bisnis yang kami lakukan . Grafik pendapatan mengalami penurunan , pelanggan semakin sedikit dan hampir-hampir dilanda kebangkrutan ( sekarang kami tetap bertahan ). Usaha kami terkena dampak dari perkembangan teknologi, Orang kini dengan mudahnya mengambil gambar video maupun foto dengan kamera yang dimiliki, orang semakin banyak yang bisa melakukan editing foto dan video. Selain itu kami juga terkena dampak dari persaingan harga yang tak kompetitif lagi. Bila tak disikapi secara cepat maka kami hanya tinggal menunggu waktu untuk “ Gulung karpet dan isi-isinya “.

Langkah-langkah membaca keadaan tersebut sebenarnya telah kami lakukan sejak satu tahun yang lalu. Kami harus segera melakukan sebuah diferesiansi usaha dan bahkan membuka usaha yang baru. Terkait usaha yang baru terlontarlah beberapa ide yang terangkum. Misal bisnis kelinci, pertanian jamur, rumah makan bebek, surabi, distro & clothing. Kami telah melakukan riset, mengunjungi tempat-tempat terbaik usaha itu berada. Apakah kami telah berhasil memilih salah satunya , ternyata tidak ! Dari pilihan-pilihan tersebut belum ada satupun yang kami jalankan. Kami hanya riset, membuat plan, membedah kebutuhan keuangan, menentukan lokasi, mencari calon-calon karyawan. Kami terlibat dalam diskusi-diskusi panjang yang tak membuahkan hasil kesepakatan mana yang akan pasti dijalankan. Apa yang sebenarnya terjadi pada kami padahal 5 tahun yang lalu ketika memulai bisnis audio visual tersebut kami berhasil melakukannya.

Nasihat seorang kawan pada malam ini, telah membuka pikiran saya. Mengapa begitu sulitnya membuka bisnis yang ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya karena kami telah mengalami mental block. Kami harus membuka pikiran lebar-lebar bahwa ketika memulai suatu bisnis, mulailah dengan BERPIKIR GAGAL. Berpikir dengan kaca mata urutan 10 bukan urutan 1. Berpikir bukan keberhasilan -keberhasilan yang akan didapatkan. Dengan BERPIKIR GAGAL sesungguhnya kita telah mempersiapkan mental yang besar apabila ternyata ketidak berhasilan kita dapatkan di bisnis yang baru dibuka. Kita tidak akan menjadi sosok yang stress , putus asa dan tak berani untuk memulai kembali bisnis. Berapapun modal yang kita keluarkan , misal 50 juta, 200 juta. 1 Milyar tak masalah hilang. Kita menganggap itu hanyalah sebagai modal belajar kita. Istilahnya ketika kita memulai bisnis “ Nothing to lose “ saja.

Luar biasa bila kacamata ini dipakai oleh kita. Apapun permasalahan yang dihadapi oleh bisnis yang baru dibuka kita sikapi dengan enjoy. Diri kita memang sudah mengetahui pasti akan ada permasalahan. BERPIKIR GAGAL bukanlahlah berati kita merencanakan kegagalan tersebut. Namun ini adalah sebuah langkah berpikir terbalik saja. Berpikir dengan hal yang tak biasa. Bukankah itu memang ciri dari seorang entrepreneur. BERPIKIR GAGAL akan menghilangkan KETAKUTAN, BERPIKIR GAGAL akan memberikan ketenangan, BERPIKIR GAGAL akan melahirkan keberanian. BERPIKIR GAGAL akan menjadi langkah keberhasilan.

Mulai hari ini saya dan teman-teman akan membuka barrier-barrier (penghalang ) pikiran. Penghalang yang telah menggembok pikiran, menjatuhkan mental dan membuat ketakutan-ketakutan tak beralasan. Dengan memulai positif thingking, positif feeling dan positif action. Insya Allah usaha baru yang akan diretas akan berjalan.

Pekanan Kelompok

Acep Hidayat
30 September 2010