Pelajaran terakhir dari sang mujahid

by acephidayat

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah Bapak Sugi, pagi ini pukul 8.20. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. “

Itulah bunyi sms yang pagi ini masuk ke inbox HP saya. Dikirimkan oleh seorang kawan. Saya tatap sunggguh-sungguh layar HP tersebut, seakan tak percaya dengan sms yang hadir tersebut. Saya menelpon kawan tersebut untuk benar-benar memastikan apakah berita tersebut benar. Dalam pembicaraan tersebut sang kawan meyakinkan bahwa berita itu benar. Saya terdiam, dan tanpa terasa air matapun meleleh, dan menangis . Menangis karena kenangan yang terdalam terhadap sang almarhum. Menangis karena ujian yang menyebabkan beliau meninggal begitu panjang. Menangis karena ketabahannya menahan ujian sehingga yang ada dalam diriya adalah sebuah kepasrahan kepada kehendak Allah SWT. Menangis dan terus menangis diri saya.

2 pekan yang lalu saya mengunjungi beliau bersama ketua Dakwah Kelurahan untuk ketiga kalinya kami bersilahturahim sekaligus menyerahkan dana pengobatan yang diberikan kawan-kawan da’wah kepada keluarga beliau. Sosok yang kini telah meninggal tersebut bernama Bapak Sugiyanto, mantan ketua Dakwah Kebagusan tahun 1999-2000. Beliau adalah salah satu penggiat dakwah di kampung kami, beliau adalah sosok pengerak remaja-remaja di lingkungan kami untuk mendalami agama Islam dan sekaligus menjadi motor perubahan. Beliau adalah ustad bagi kami yang mengajarkan bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat dan hidup bersama masyarakat.

Beliau mengalami sakit penyumbatan empedu dan hepatitis C kronis. Beliau mengalami sakit tersebut kurang lebih selama 1 tahun hingga ajal menjemputnya. Diagnosis dokter mengatakan tak dapat disembuhkan. Melihat beliau terbaring tak berdaya selalu membuat mata saya sembab, bukan karena cengeng , tetapi melihat kondisi tubuh beliau yang makin kurus hanya tinggal dibalut tulang, perut yang membesar karena pencernaannya tak berfungsi lagi, raut wajah yang jauh melampui usia dirinya bagai seorang kakek. Ahh dalam sakitnya beliau tetap tersenyum. Malam itu kami bicara banyak tentang dakwah , kami mengulas pengalaman-pengalaman beliau dalam dakwah. Beliau bicara tentang bagaimana awal-awal dahulu membawa dakwah di lingkungan kami , bagaimana masyarakat mencurigai sebagai aliran sesat. Menyikapi hal tersebut sangat sederhana yang beliau ajarkan yakni ketika ada pengajian kelompok beliau ajak orang tua mereka , beliau ajak untuk mendengarkan materi-materi yang beliau sampaikan. Hasilnya adalah ketika ada sebagian masayarakat menyatakannya sebagi ahli sesat, orang tua remaja-remaja tersebut membelanya, membelanya karena tak ada yang salah dengan apa yang beliau ajarkan.

Beliau mengajarkan saya untuk dekat dengan masyarakat. Beliau mencotohkan bagaimana menjalin kedekatan dengan Bapak Lurah, RW maupun RT dan tokoh-tokoh masyarakat lain. Beliau mengajarkan bagaimana agar selalu terlibat dalam kegiatan di masyakat apa saja misal kerja bakti, arisan RT, acara 17 an dan sebagainya. Kedekatan kepada masyarakat menandakan bahwa dakwah ini membumi.

Beliau menyampaikan pula bagaimana mengubah materi yang disampaikan tidak menjadi materi langitan. Menjadi materi yang tidak hanya ada pada tataran idealisme, materi –materi yang tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kepada murid-murid pengajiannya sederhana yang beliau ajarkan sebelum masuk pada materi-materi yang berlibet. Beliau meminta murid-muridnya untuk belajar mengepel, belajar mencuci pakaian, belajar memasak dan materi-materi itu sangatlah sederhana , ternyata materi-materi itulah yang disukai oleh ayah dan ibu mereka dirumah, sehingga sang murid terasa kemanfaatannya di keluarga. Belau mengajarkan tentang ukhuwah sederhana pula, bagaimana murid-muridnya ketika mengaji diminta membawa makanan dari rumahnya masing-masing dan disana dimakan bersama. Ketika di angkot dan dimanapun untuk saling bertegur sapa, menebarkan salam dan selalu berempati kepada kawan yang kesusahan. Beliau pun tidak pernah memilah-memilah objek dakwah, banyak murid-murid dakwahnya dahulu di bina ketika SD, SMP, maupun SMU. Dan kini beliau telah melihat hasilnya, murid-muridnya telah menjadi sosok-sosok yang dapat dibanggakan di kampus maupun di lingkungan kerja.

Ahh luar biasa ya pak, pelajaran sangat dalam buat diri saya. Malam itupun saya mengangguk salut kepada istri beliau. Kuat untuk mendampingi beliau dalam sakitnya. Bahkan masih bisa bercanda “ Abi klo ga sakit kaya gini mana bisa dirumah terus, dan bertemu kami. Kalo dulu abinya sulit diam, entah kegiatan dakwah disinilah, disanalah atau bermain futsal, abi ga pernah bisa diam selalu untuk masyarakat. “ Tak ada rasa sedih terungkap dalam wajah istri beliau yang ada adalah ketegaran bawa inilah takdir hidup mereka, dan mereka harus tetap berhusnudzon kepada Allah SWT. Mereka tetap berikhtiar dengan segala obat untuk kesembuhan penyakit tersebut.

Buah amal tersebut memang nyata, hampir tiap hari ada saja murid, sahabat atau kawan yang hadir kerumah beliau. Sampai-sampai masyarakat menyangka belau adalah salah satu pejabat. Istrinya hanya tersenyum bila tetangganya berkata tersebut.

Pagi itu saya bertaziyah kerumahnya. Melihat beliau sedang dimandikan. Saya menyampaikan salam dari kawan-kawan kepada istrinya.

Pak ini insya Allah yang terbaik untuk antum, Allah sangat menyayangi antum sehingga ujian ini sangat berat namun bapak insya Allah dapat memikulnya, insya Allah ketika antum sakit pak , Allah mengangkat dosa-dosa antum. Salut untuk antum pak, saya tak yakin bila ujian itu ditimpakan kepada saya akan dapat memikulnya. Saya berjanji dalam diri untuk terus dalam dakwah , dan melanjutkan perjuangan antum dilingkungan dimana saya berada. Saya takkan memandang apakah yang saya bina adalah anak-anak SD, anak SMP ataupun SMA, karena mereka kelak adalah kader-kader dakwah, sebagaimana dahulu ketika saya SMP sempat merasakan dakwah antum berikan “

Selamat jalan pak.. semoga kita kelak bertemu dalam Syurga- Nya. Amien

8 Desember 2010

Acep Hidayat