Kami Hanya Mau Surga

by acephidayat

Apa yang membuat sebagian manusia berela rela untuk mau susah payah memikirkan orang lain. Terlebih bagi aktivis dakwah yang hari-harinya dipenuhi jadwal untuk mengisi pengajian-pengajian, kegiatan-kegiatan keislaman atau aksi-aksi sosial.

Point interest yg dilakukan sosok aktivis dakwah itu yakni bagaimana memberdayakan kesolehan pribadinya menjadi kesolehan berdaya guna.
Sebagai contoh sosok A, katakanlah dirinya diberi amanah sebagai seorang ketua dakwah di sebuah kampung. Pekerjaannya belumlah mapan, penghasilan istrinya pun tak terlalu besar. Kontras dengan pekerjaan sehari-harinya, pekerjaan “dakwah”nya jauh lebih besar. Hampir sebagian malam-malamnya dipenuhi agenda koordinasi kerja, belum lagi agenda tiap pekan untuk menggulirkan program-program sosial kemasyarakatan. Berpacu dengan waktu kepentingan dirinya dan keluarganya ia korbankan untuk kepentingan umat yang jauh lebih besar.

Hingga pada satu titik ketika kelelahan melanda, ia berpikir apa yang akan kudapatkan dari kerja-kerja dakwah ini ? Ia menengok kisah hidup teman-temannya yang tidak aktif dakwah, sudah mulai mapan dengan indikasi punya rumah dan mobil serta gaji yang besar. Ia berpikir apakah aku akan mundur kebelakang dan lebih baik menjadi “orang biasa saja ?”.

Lalu ada kisah sosok B, Aktivis dakwah di sebuah institusi sekolah. Sosok ini hampir tiap pekan merelakan waktunya untuk mendidik adik-adik kelasnya. Sudah belasan tahun sejak ia lulus dari sekolah tersebut ia kembali ke almamaternya berdakwah.

Ia sebenarnya tak sendiri pada awalnya, namun rekan-rekannya banyak yang tak bertahan untuk dakwah ditempat tersebut. Ada yang memang jenuh, malas dan hilang semangat dakwahnya serta ada juga yg memang karena domisilinya yang sudah berpindah dan tak memungkinkannya teta berdakwah ditempat tersebut.

Hingga Ia telah pada satu titik dalam kesendirian berdakwah. Adik-adik yang dibinanya yang diharapkan melanjutkan estafet dakwahnya tak juga kembali setelah lulus. Ia terdiam dan berpikir dalam kelelahannya. “Apakah aku tinggalkan lahan dakwah ini? “. ” Lalu bila aku tinggalkan bagaimana dengan adik-adik yang kubina ini ?” Siapa yang mengajarkan mereka mengaji, belajar keterampilan hidup dan nilai-nilai kehidupan ?”.
Ia menyentak batinnya, lalu dengan semua pengorbanan yang ku berikan, apakah yang akan ku dapatkan ? ” Apakah lebih baik aku menjadi “orang biasa saja ? ”

Sesungguhnya kisah-kisah patriot dakwah adalah senantiasa kisah yang bergulir dalam setiap jaman. Kisah-kisah yang menuntut kerelaan sang dai untuk mengorbankan segalanya untuk dakwah ini.

Tengok kisah Rasulullah SAW dengan sahabatnya. Muhammad bin Ka’ab al – Qurazhi dan lain-lainnya bercerita , ” Abdullah bin Rawahah ra berkata kepada Rasulullah saw, pada malam Bai’ah Aqabah (yang pada waktu itu tokoh-tokoh suku Aus dan Khazraj berjanji setia kepada beliau saw untuk berhijrah kepada mereka. ) Tentukan syarat untuk Tuhanmu dan untuk dirimu sesuai dengan yang engkau kehendaki . ” Beliau bersabda , ” Aku mensyaratkan buat Tuhanku, yaitu hendaklah kamu beribadah kepada-Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Aku mensyaratkan untuk diriku, yaitu lindungilah aku dari sesuatu yang kamu melindungi dirimu dan hartamu darinya.’ Abdullah bin Rawahah bertanya . ‘ Apakah yang akan kami peroleh jika kami lakukan hal itu ?” Beliau menjawab , ‘ Surga.’ Mereka berkata , ” Beruntunglah perniagaan itu, kami tidak akan membatalkannya dan tidak meminta dibatalkan.”

Inilah hakikat akidah islam. Yaitu memberi, memenuhi dan menunaikan saja, tanpa mengharapkan imbalan kekayaan duniawi, kemenangan dan kekuasaan. Kemudian menantikan segala sesuatu di akhirat sana.

Insya Allah tidak ada lagi kegalauan sosok A dan B serta sosok-sosok lain yang berjuang di jalan Allah, menebar kebaikan.
Surga telah menanti sahabat.

Jakarta, 28 September 2013.
Refleksi kegiatan Ragunan.